Obat Covid-19 Actemra Langka di Indonesia, Menko PMK: Itu Obat Impor Jumlahnya Sangat Terbatas

77
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy

JAKARTA— Menko PMK Muhadjir Effendy mengaku masih ada masalah soal ketersediaan obat Covid-19 di Indonesia seperti kelangkaan obat Actemra yang merupakan rekomendasi WHO.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy memastikan ketersediaan obat-obatan, terutama yang akan digunakan untuk terapi Covid-19, sehingga betul-betul aman dan tercukupi.

Dia mengakui masih ada beberapa masalah, seperti kelangkaan obat Actemra.

Obat tersebut merupakan rekomendasi WHO untuk pasien Covid-19 karena bisa menekan jumlah interleukin 6 (IL-6), yang cukup tinggi pada kasus rheumatoid arthritis.

Obat itu kata Muhadjir, sangat penting karena jika tidak segera diobati, interleukin 6 (IL-6) bisa memicu peradangan di seluruh tubuh, khususnya bagi pasien yang sedang menderita Covid-19.

“Karena itu obat impor jumlahnya sangat terbatas. Kita tidak ada pilihan lain kecuali digunakan untuk yang betul-betul urgent,” kata Muhadjir dalam keterangannya, Selasa (13/7).

Dia menambahkan, di pasar internasional juga sama untuk mencarinya susah, obat Actemra itu memang sangat langka.

Muhadjir juga mengaku sudah melihat di gudang Dinkes Provinsi Jawa Timur, yang cuma ada empat paket.

“Jadi betul-betul sangat terbatas dan ini akan menjadi perhatian kami,” terangnya.

Di samping itu, masalah mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk obat terapi Covid-19 yang jauh sangat rendah dibandingkan harga sebelumnya, lanjut menko PMK akan membicarakan dan melaporkan hal tersebut kepada presiden.

Sementara itu, menyikapi adanya oknum yang ditangkap karena telah melakukan penimbunan obat terapi Covid-19 seperti Azithromycin, Menko Muhadjir tegas menyatakan tidak boleh ada penimbunan obat apalagi yang diperlukan untuk memerangi Covid-19.

“Ini tentu sangat mengganggu karena sudah ada SE Menkes dan larangan dari Polri pokoknya tidak boleh ada yang melakukan praktik penimbunan,” tegasnya.

Sumber Berita / Artikel Asli : (ral/jpnn/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here