Polemik Unggahan BEM UI Jokowi ‘The King Of Lip Service’ , Kampus: Proses Pembinaan

171

Postingan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia mengenai Presiden Jokowi sebagai The King Of Lip Service menuai polemik.

Unggahan tersebut menjadi polemik di masyarakat. Akibat unggahan tersebut, BEM UI pun dipanggil pihak Kampus UI.

Selain itu, sejumlah politikus angkat bicara mengenai polemik unggahan BEM UI itu, diantaranya Fadli Zon dan Fahri Hamzah.

Diketahui, terdapat 10 nama yang diminta hadir di Ruang Rapat Ditmawa (Direktorat Kemahasiswaan) UI, Minggu (27/6/2021) pukul pukul 15.00 WIB.

Mereka yang dipanggil yakni Ketua BEM UI, Leon Alvinda Putra, Wakil Ketua BEM UI, Yogie Sani, Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI, Ginanjar Ariyasuta, Kepala Kantor Komunikasi dan Informasi BEM UI, Oktivani Budi, Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI, Christopher Christian.

 

Lalu, lima orang lainnya adalah Kepala Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI, Syahrul Badri, dan wakilnya, Achmad Fathan Mubina, Ketua DPM UI, Yosia Setiadi, dan dua wakilnya, Muffaza Raffiky serta Abdurrosyid.

Kepala Biro Humas dan KIP Universitas Indonesia (UI), Amelita Lusia, mengatakan pemanggilan itu terkait unggahan Presiden Joko Widodo The King Of Lip Service.

Hal itu menurut pihak kampus merupakan bagian dari proses pembinaan kemahasiswaan.

“Pemanggilan terhadap BEM UI ini karena menilai urgensi dari masalah yang sudah ramai sejak postingan yang mereka buat di akun sosial media BEM UI. Pemanggilan ini adalah bagian dari proses pembinaan kemahasiswaan yang ada di UI,” ujar Amelita dalam keterangan tertulisnya, Senin (28/6/2021).

 

Amelita mengatakan unggahan BEM UI pada akun sosial media instagram dalam hal ini kritikan terhadap Presiden Joko Widodo, merupakan kebebasan berpendapat dan menyampaikan informasi yang dilindungi undang-undang.

Namun, menurut Amelita, seyogyanya aturan dan koridor hukum yang berlaku tetap diperhatikan dalam menyampaikan kebebasan berpendapat dan aspirasi tersebut.

“Meskipun demikian dalam menyampaikan pendapat, seyogyanya harus menaati dan sesuai koridor hukum yang berlaku,” kata Amelita.

Surat panggilan terhadap 10 anggota BEM UI buntut postingan Presiden Jokowi 'King Of The Lip Service' di sosial media.
Surat panggilan terhadap 10 anggota BEM UI buntut postingan Presiden Jokowi ‘King Of The Lip Service’ di sosial media. (ISTIMEWA)

Amelita menjelaskan unggahan Presiden Joko Widodo yang merupakan simbol negara dengan diedit menggunakan mahkota berwarna merah, serta sejumlah tulisan yang di antaranya adalah ‘ The King Of Lip Service ’, bukanlah cara yang benar untuk menyampaikan pendapat.

“Bukanlah cara menyampaikan pendapat yang sesuai aturan yang tepat, karena melanggar beberapa peraturan yang ada,” tuturnya.

Namun, Amelita tidak menjelaskan peraturan apa yang dilanggar oleh mahasiswanya dalam postingan tersebut.

“Atas pemuatan meme tersebut di media sosial, Universitas Indonesia mengambil sikap tegas dengan melakukan pemanggilan terhadap BEM UI pada sore hari Minggu, 27 Juni 2021,” ujarnya.

Akun Media Sosial Anggota BEM UI Diretas

Unggahan soal Presiden Joko Widodo ‘The King Of Lip Service’ berbuntut panjang.

Sejumlah anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), mengalami peretasan pada akun sosial medianya masing-masing sejak kemarin malam hingga dini hari tadi.

Ketua BEM UI, Leon Alvinda, mengatakan, ada empat anggota BEM UI yang mengalami peretasan sosial media pada akun Whatsapp, Instagram, dan juga Telegram.

Peretasan pertama dialami oleh Syahrul Badri, Kepala Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI, pada akun Instagramnya,

“Pukul 21.45 WIB (Minggu 27/6/2021) akun Instagram Syahrul Badri mengalami restriction, setelah mengunggah beberapa postingan di instastory menyangkut surat pemanggilan fungsionaris BEM UI oleh pihak UI,” kata Leon dikonfirmasi TribunJakarta melalui pesan singkat, Senin (28/6/2021).

Sampai saat ini, Leon mengatakan akun Instagram Syahrul Badri masih ada, namun belum bisa akun diakses kembali seperti biasa.

Peretasan pun berlanjut pada dini hari. Akun whatsapp Tiara, Kepala Biro Hubungan Masyarakat BEM UI, tidak dapat diakses sekira pukul 00.56 WIB.

Ketika dibuka, Leon mengatakan bahwa akun whatsapp tersebut telah keluar (log out) dari handphone Tiara.

Kemudian, sejam berselang, giliran akun Telegram milik Naifah Uzlah, selaku Koordinator Bidang Sosial dan Lingkungan BEM UI, Naifah Uzlah, yang tak bisa diakses sekira pukul 02.15 WIB.

Leon mengatakan, ada upaya masuk (log in) pada sosial media Telegram Naifah Uzlah yang dilakukan oleh pihak lain.

Selanjutnya, peretasan dialami oleh Wakil Ketua BEM UI, Yogie Sani, sekira pukul 07.11 WIB. Akun WhatsApp Yogie tak data diakses dan telah keluar dari gawainya.

Bahkan, Leon berujar ada pemberitahuan bahwa akun whatsapp nya telah masuk dalam perangkat yang lain.

Namun demikian, peretasan yang dialami oleh Yogie tak berlangsung lama. Kurang lebih Sembilan menit berselang, ia berhasil mengambil alih kembali akun whatsappnya.

Leon mengatakan bahwa ia juga mengalami upaya peretasan sekira pukul 11.00 WIB pada akun whatsappnya.

Tak hanya akun whatsapp, Leon mengatakan terjadi juga ada upaya mengambil alih akun Telegramnya bersamaan dengan diretasnya akun Whatsapp miliknya.

Kecaman Fadli Zon

Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon saat ditemui di rumah Ahmad Dhani di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Senin (30/12/2019)
Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon saat ditemui di rumah Ahmad Dhani di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Senin (30/12/2019) (TribunJakarta/Annas Furqon Hakim)

Politisi Partai Gerindra, Fadli Zon mengecam Rektorat Universitas Indonesia (UI) setelah memanggil pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI yang mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai “The King of Lip Service”.

Kecaman Fadli Zon disampaikan melalui cuitan di akun Twitter miliknya, Minggu (27/6/2021) malam.

Fadli Zon menilai apa yang dilakukan Rektorat UI wujud membungkam kebebasan berekspresi.

Sebagai alumni UI, saya mengecam sikap Rektorat UI yang cenderung membungkam kebebasan berekspresi BEM UI,” ungkapnya.

Fadli Zon menyebut UI seharusnya melakukan pengkajian dan mendalami apa yang disampaikan BEM UI secara akademik.

Coba masuk ke substansi dan argumentasi. Sungguh memalukan pakai ‘panggilan’ segala,” ungkap Fadli Zon.

Cuitan Fadli Zon di akun Twitter miliknya, Minggu (27/6/2021) malam.
Cuitan Fadli Zon di akun Twitter miliknya, Minggu (27/6/2021) malam. (Twitter/fadlizon)

Fahri Hamzah Singgung Orde Baru

Wakil Ketua sekaligus pendiri Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah, selepas deklarasi dan melantik pengurus Dewan Pimpiman Wilayah (DPW) Gelora Banten, di Lemo Hotel, Jalan Raya Legok, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Minggu (24/11/2019).
Wakil Ketua sekaligus pendiri Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah, selepas deklarasi dan melantik pengurus Dewan Pimpiman Wilayah (DPW) Gelora Banten, di Lemo Hotel, Jalan Raya Legok, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Minggu (24/11/2019). (tribunJakarta/Jaisy Rahman Tohir)

Pemanggilan rektorat kepada mahasiswa BEM UI ini pun mendapat tanggapan dari Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah.

Politisi Partai Gelora itu menyinggung soal penyampaian kritikan di zaman Order Baru (Orba).

Ia menceritakan, dulu dirinya dan kawan-kawannya sempat mengkritik UI.

Hampir sama dengan nasib BEM UI, Fahri Hamzah kala itu juga dipanggil pihak rektorat.

Tahun 1994 aku dan teman2 mahasiswa wartawan koran kampus #WartaUI menulis headline “Kritik Pembangunan Rektorat UI yg Mega. Kami dipanggil dan Koran kami dibredel di era Orba,” ucap Fahri, dikutip dari akun Twitternya, @Fahrihamzah, Minggu (37/6/2021).

Menurut Fahri, sikap rektorat memanggil sejumlah mahasiwa itu layaknya situasi zaman Orba, yang anti-kritik.

Tahun 1998 Orba tumbang. Rupanya mental orba pindah ke Rektorat UI mengancam mahasiswa. Malu ah!” lanjutnya.

Dia menuturkan, kelemahan zaman Orba adalah kekuasaan absolutnya.

Ia pun berharap, jangan sampai pihak rektorat meniru pemerintahan zaman orba.

Semua kekuasaan absolut itu berbahaya. Bahkan dalam lembaga agama pun berbahaya.”

“Maka agama menyadari kelemahan mental manusia ini. Maka manusia dibatasi. Bahkan nabi dibatasi.”

“Jadi kelemahan Orba adalah absolutisme. Itu jangan ditiru apalagi dipuji. Jangan salah baca!,” lanjutnya.

Fahri menuturkan, kampus harus menjadi sumber kebebasan mahasiswanya.

Dikatakannya, meski di situasi pandemi Covid-19 yang membelenggu, seseorang boleh berfikir secara bebas.

Lanjut Fahri, kampus merupakan tempat tumbuhnya bibit generasi pemimpin.

Semoga tindakan Rektorat UI tidak benar. Kampus harus menjadi sumber kebebasan. Masa depan kita adalah kebebasan.”

“Meski pandemi membelenggu fisik kita tapi jiwa dan pikiran harus merdeka.”

“Kampus adalah persemaian generasi kepemimpinan yang harus terlepas dari pengangkangan!,” jelas Fahri.

Sumber Berita / Artikel Asli : .tribunnews

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here