Teror Diskusi UGM Harus Diusut, Pemerintahan Jokowi Jadi Taruhan

329
Otto Hasibuan

JAKARTA – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dan dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mendapat teror dan ancaman pembunuhan.

Hal itu terkait diskusi Constitutional Law Society (CLS) Fakultas Hukum UGM.

Diskusi itu bertajuk ‘Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan’.

Karena itu, aparat polisi harus mengusut tuntas pelaku yang melakukan teror dan ancaman.

Demikian disampaikan Ketua Alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (Kahgama), Otto Hasibuan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (31/5/2020).

“Teror merupakan bentuk tindakan kriminal juga dapat membungkam kebebasan berpendapat dan kebebasan mimbar yang diatur dalam undang-undang dasar,” ujarnya.

Pria yang berprofesi sebagai advokat ini menyatakan, sepanjang tidak bertentangan dengan hukum, diskusi mahasiswa sah dan tidak boleh dilarang.

Ia pun menceritakan pengalamannya saat menjadi utusan UGM mengikuti diskusi dalam acara peringatan Konferensi Asia Afrika yang diadakan Universitas Padjajaran pada tahun 1979 di Bandung.

“Bahkan saya dibiayai oleh universitas dengan memberikan biaya tiket kereta api. Padahal rektor tahu kita, mahasiswa tetap saja kritis terhadap pemerintah pada waktu itu,” ungkapnya.

“Artinya, universitas sangat menghormati kebebasan berpendapat dan mendorong kreativitas mahasiswa dalam menuntut ilmu,” sambung Otto.

Oleh karenanya, ia meminta kepolisian segera mengungkap pelaku teror karena dapat merusak citra pemerintah dan dapat mencederai hukum dan keadilan.

“Ini kalau tidak diungkap cepat akan merugikan nama baik pemerintahan Presiden Jokowi dan kepolisian, terlebih lagi pola terornya juga sama dengan teror terhadap wartawan,” tegasnya.

“Apakah itu dilakukan oleh pihak yang sama? Ini perlu diusut,” pungkasnya.

Ahli Hukum Tata Negara, Refly Harun mengatakan, meminta presiden mundur itu merupakan bagian dari hak berdemokrasi.

“Yang nggak boleh, maksa presiden mundur,” ucapnya melalui akun Twitter, Minggu (31/5/2020).

Bukan cuma panitia penyelenggara diskusi yang diintimidasi, pemateri diskusi bertajuk ‘Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan’ juga diteror.

Rumah guru besar wanita itu didatangi sejumlah oknum tertentu di rumahnya di Dusun Surogenen Yogyakarta. Pintu rumahnya digedor-gedor.

Ia diawasi sejak Kamis malam (27/5) hingga Jumat pagi (28/5).

Akibatnya, Prof Ni’matul Huda batal memberikan materi diskusi yang diselenggarakan oleh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sumber Berita / Artikel Asli : jpg/ruh/pojoksatu

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here