Teddy Gusnaidi : Yang Teriak-teriak Iuran BPJS Naik Menyulitkan Adalah Orang-orang Mampu

437

Naiknya kembali Iuran BPJS Kesehatan nampaknya menjadi polemik tersendiri bagi masyarakat Indonesia.

Kenaikan Iuran tersebut juga sudah diresmikan oleh presiden Jokowi melalui Perpres, meskipun sebelumnya Mahkamah Agung sudah membatalkan kebijakan Kenaikan Iuran BPJS tersebut, pada Maret lalu.

Bahkan tak sedikit masyarakat merasa bingung mengapa BPJS dinaikkan kembali dan banyak yang berteriak mengalami kesulitan akibat Kenaikan ini. Bahkan banyak politisi menyebut masyarakat Indonesia sudah jatuh tertimpa tangga pula, karena Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan diberlakukan saat pandemi Covid-19.

Walaupun begitu, salah satu Pegiat sosial media dan  Dewan Pakar PKPI, Teddy Gusnaidi dalam akun Twitternya, @TeddyGusnaidi heran kenapa masyarakat teriak-teriak kesulitan. Padahal yang mengalami Kenaikan hanyalah pengguna kelas 1 dan kelas 2 saja.

“Yang naik itu Iuran BPJS Kesehatan kelas 1 dan kelas 2. Kelas 3 tidak naik dan yang gratis tetap gratis,” cuitnya saat dipantau Akurat.co, Jumat (15/5/2020)

Ini berarti, lanjutnya, yang teriak-teriak Iuran BPJS naik, “menyulitkan orang Miskin” adalah orang-Orang Mampu. “(Mereka) yang tidak mau berbagi dengan orang Miskin, tapi berlindung dibalik orang Miskin.”

Sebagai Informasi, Kenaikan Iuran bertahap tersebut terkandung dalam peraturan presiden No. 64 tahun 2020 mengenai perubahan kedua atas jaminan Kesehatan. Beleid tersebutpun ditantangani langsung oleh presiden dan ditetapkan pada 5 Mei lalu.

Kenaikan Iuran bertahap Pada Pasal 34 perpres tersebut, mulanya disebutkan bahwa Iuran BPJS Kesehatan yang ditetapkan sebesar Rp42 ribu sejak 1 Agustus 2019 bagi penerima bantuan Iuran (PBI). Besaran itu disamakan untuk Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) maupun Bukan Pekerja (BP) di ruang perawatan kelas III.

Namun, sepanjang 2020 ini, Iuran akan disokong oleh Pemerintah pusat (pempus) sebesar Rp16.500 per orang per bulan sedangkan sisanya, yakni Rp25.500 akan dibayar oleh peserta atau pihak lain atas nama peserta.

Sementara itu, Iuran bagian peserta PBPU dan peserta BP atau pihak lain atas nama peserta sebesar Rp25.50O per orang per bulan yang sebelumnya dibayarkan oleh pemda (pemda).

Namun mulai 2021, Iuran mengalami perubahan skema. Iuran yang harus dibayarkan peserta sebesar Rp35 ribu sedangkan sisanya, yakni Rp7 ribu dibayarkan pempus. Sedangkan untuk yang sebelumnya dibayarkan oleh daerah Rp35 ribu bisa dibayarkan seluruhnya oleh pemda atau sebagiannya saja.

Bagi Peserta PBPU dan BP dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas II yaitu sebesar Rp100.O00 per orang per bulan dibayar oleh peserta PBPU dan peserta BP atau pihak lain atas nama Peserta. Sedangkan untuk manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas I yaitu sebesar Rp150.000. []

Sumber Berita / Artikel Asli : Akurat

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here