Luhut Tanya Anies, Masih Banyak Orang ke DKI: Ini Jawabannya

649
Jakarta- Jumlah pengguna KRL di Jabodetabek sempat membeludak meski sudah ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta. Arus orang dari luar Jakarta ke ibu kota masih tinggi termasuk di KRL. Ini membuat Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang juga Menhub ad interim mengaku sempat bertanya-tanya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sempat ditanya oleh Luhut perihal mobilitas warga yang masih tinggi dari luar DKI Jakarta meski ada PSBB. Pertanyaan itu diajukan dalam rangka koordinasi untuk penanganan COVID-19.

“Pak Gubernur DKI Pak Anies bicara sama saya, jadi kami koordinasikan baik- baik saja. Mengenai KRL ini saya bilang Pak Anies Tolong juga dilihat kenapa masih banyak orang yang ke Jakarta,” kata Luhut di sela menggelar konferensi video bersama awak media, Selasa (14/4/20/20).

Luhut mengemukakan hal tersebut ketika ditanya perihal tanggapan atas desakan penghentian operasional KRL commuter line selama PSBB. Dua hari pertama pekan ini, jumlah penumpang KRL masih membludak di stasiun.

Catatan PT KCI, pada Selasa (14/4/20) hingga pukul 09.00 pagi, ada 62.282 penumpang KRL Jabodetabek, pada Senin (13/4/20) bahkan sampai 75.661 penumpang pada jam yang sama. Namun, pada Rabu saat PSBB di Bogor, Depok, Bekasi memang ada penurunan penumpang sampai 35%.

Namun, tetap saja jumlah penumpang KRL masih tinggi. Ini disinyalir terkait dengan masih berlangsungnya aktivitas usaha formal maupun informal di DKI Jakarta, sehingga pekerja dari luar Jakarta masih punya kepentingan menggunakan KRL.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang menjelaskan soal kondisi dunia usaha selama PSBB di Jakarta, dan mulai hari ini di Bogor, Depok, dan Bekasi.

Ia bilang untuk sektor perkantoran, termasuk para tenant atau perusahaan penyewa kantor termasuk pengelola gedung umumnya sudah mengikuti ketentuan PSBB. Artinya mayoritas sudah menerapkan kerja di rumah atau WFH. Namun, kata dia tingginya arus orang ke Jakarta meski sudah berlaku PSBB karena ada beberapa faktor.

Pertama, aktivitas bisnis informal terutama dari para pedagang pakaian yang beberapa hari terakhir membutuhkan stok dagangan untuk persiapan lebaran. Meski pusat-pusat perdagangan seperti Tanah Abang tutup, pelaku usaha informal ini bergerilya di perdagangan online, sehingga butuh datang mengirim stok pakaian.

“Ada aktivitas para karyawan yang melayani secara online, toko mereka memang tutup di pusat perdagangan, tapi stok mereka ada di toko. Ada kemungkinan ada karyawan yang masih masuk,” kata Sarman kepada CNBC Indonesia, Rabu (15/4).

Kedua, ada aktivitas pekerja yang bergerak di bidang pengiriman barang, sektor ini memang justru sedang dibutuhkan saat pandemi corona. Sehingga pekerja-pekerja sektor ini sangat mungkin masih menggunakan transportasi umum seperti KRL.

Ketiga, karyawan-karyawan yang di perkantoran atau dunia usaha yang masih diizinkan tetap membuka usaha meski berlaku PSBB. “Sektor-sektor itu cukup besar loh karyawannya, dan tapi bayaknya hanya di jam-jam tertentu, saja seperti pagi hari di KRL,”katanya.

Pemprov DKI memang memberikan pengecualian bagi perkantoran atau bidang usaha tertentu tetap beroperasi selama PSBB yaitu: kantor instansi pemerintah baik pusat maupun daerah, kantor perwakilan diplomatik dan organisasi internasional, dan BUMN-BUMD.

Juga pelaku usaha yang bergerak pada sektor:

1. kesehatan;
2. bahan pangan/ makanan/ minuman;
3. energi;
4. komunikasi dan teknologi informasi;
5. keuangan;
6. logistik;
7. perhotelan;
8. konstruksi;
9. industri strategis;
10. pelayanan dasar, utilitas publik dan industri yang ditetapkan sebagai objek vital nasional dan objek tertentu; dan/atau
11. kebutuhan sehari-hari.

Keempat, pekerja-pekerja informal seperti ojek online yang tetap beraktivitas meski ada PSBB. Ini karena untuk angkutan barang dan makanan masih diperbolehkan oleh pemda saat PSBB, kecuali angkutan penumpang.
(hoi/hoi)

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here