Faisal Basri: Gelombang mudik tak terbendung, daerah bisa tunggang langgang

425

JAKARTA.  Ekonom senior Universitas Indonesia Faisal Basri kembali mengingatkan atas bahaya corona atau Covid 19. Utamanya jika gelombang mudik  tak terbendung.

Lewat blognya: faisalbasri.com, Bang Faisal begitu ia biasa disapa memberikan gambaran bahwa penaganan episentrum efek corona yakni di Jabodetak sangat menentukan dalam penanganan penyebaran virus corona secara nasional.

Jika musim mudik tiba, tanpa ada pengendalian serius dari pemerintah, bahaya mengancam. Kekuarngan rumahsakit, tenaga medis, dokter, perawat, hingga tempat tidur akan menjadi persoalan daerah yang sangat serius. “Daerah bisa tungganglanggang jika mengalami ledakan coronaviruses,” ujar Faisal.

Inilah analisa lengkap Faisal Basri, seperti yang ia tulis dalam blognya:

Jakarta adalah episentrum wabah coronavirus di Indonesia. Sekitar separuh kasus terkonfirmasi (confirmed cases) dan jumlah kematian disumbang oleh Jakarta.

Sampai 8 April, jumlah kasus terkonfirmasi corona atau Covid-19 mencapai 2.956 orang, adapun di DKI mencapai 1/470 orang. Ini artinya, kasus terkonfirmasi corona di DKI 49,7%.  Kasus meninggal karena Covid-19 juga didominasi di ibukota yakni sampai 47,5%. Yakni jika nasional seluruh yang meninggal mencapai 240 orang maka di DKI mencapao 114 orang atau 47,5%.

Jika pusat episentrum diperluas dengan memasukkan kota/kabupaten di sekitar Jakarta atau Jabodetabek (Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Depok, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi), porsinya mencapai sekitar 70 persen.

Oleh karena itu, keberhasilan mengendalikan penyebaran coronavirus COVID-19 secara nasional sangat bergantung pada penanganan di Jabodetabek. Jangan sampai medan pertempuran meluas dan massif ke seluruh penjuru Tanah Air.

Walaupun coronavirus telah menyebar ke 32 provinsi, kita masih punya waktu untuk meredamnya jika episentrum coronavirus bisa ditaklukkan.

Tak terbayangkan jika penyebaran kian merata ke selruh provinsi mengingat daya dukung kita sangat terbatas.

Jumlah dokter per 1.000 penduduk di Indonesia sangat sedikit dan jauh lebih rendah ketimbang negara-negara tetangga. Untuk jumlah perawat dan bidan, Indonesia hanya lebih baik dibandingkan Vietnam dan Iran.

 

Ketersediaan tempat tidur rumah sakit sama mengkhawatirkannya. Semua tujuan mudik utama di bawah rerata nasional.

 

Masalah semakin pelik karena persebaran dokter, perawat, dan tempat tidur di rumah sakit tidak merata. Lebih mengkhawatirkan lagi kondisi di daerah-daerah tujuan mudik utama. Jumlah dokter per 10.000 penduduk di semua tujuan mudik utama di bawah rerata nasional, dengan Jawa Barat yang paling parah.

 

Untuk jumlah perawat (tidak termasuk bidan) per 10.000 penduduk, Jawa Barat menduduki peringkat terbawah. Jawa Timur dan Lampung di bawah rerata nasional, sedangkan Jawa tengah sama dengan rerata nasional.

Ketersediaan tempat tidur rumah sakit sama mengkhawatirkannya. Semua tujuan mudik utama di bawah rerata nasional.

Jadi bisa dibayangkan betapa akan tunggang-langgang daerah-daerah tujuan utama mudik jika mengalami ledakan wabah coronavirus yag dibawa oleh pemudik dari pusat episentrum Jabodetabek.

Belum terlambat untuk menerapkan strategi nasional dengan kehadiran komandan perang di pusat medan laga. Sejauh ini, pemerintah daerah di Jabodetabek sudah amat sadar akan bahaya yang menghadang, tidak saja terhadap penduduk mereka, melainkan juga bagi kepentingan nasional.

Jabodetabek butuh panglima perang. Juga Indonesia, tentunya. Teramat berat rasanya kalau diserahkan kepada masing-masing kepala daerah dan kerja sama sesama mereka semata. Sekali lagi, ini bukan persoalan Jabodetabek, melainkan sudah menjadi persoalan nasional yang genting.

Sekalipun Jakarta sudah mulai kewalahan, bagaimanapun kesiapan Jakarta jauh lebih baik ketimbang daerah-daerah tujuan utama mudik. Semoga ini jadi pertimbangan bagi saudara-saudara kita yang hendak mudik.

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here