Jenazah Pasien Corona Dilapisi Plastik dan Klorin, Ini Protokol WHO

273

Dalam proses pemakaman jenazah pasien Covid-19 yang terinfeksii virus corona di Indonesia sekalipun jenazah umumnya dilapisi plastik dan klorin, serta dilakukan disinfeksi minimal dua kali sebelum dimakamkan.

Namun masih ada pasien positif Covid-19 yang sudah meninggal dunia dan selesai prosesi medis, tetapi masih juga ditolak pemakamannya oleh masyarakat.

Dengan dalih, jenazahnya masih memungkinkan terjadinya penularan virus corona, SARS-CoV-2 sebagai penyebab Covid-19.

Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah pelapisan plastik, klorin dan disinfeksi tersebut memang diperlukan untuk mencegah penularan jenazah pasien Covid-19?

Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Dr Panji Hadisoemarto MPH, menjelaskan memang ada diskrepansi antara protokol dari Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) dengan protokol lokal.

Protokol WHO tidak secara umum merekomendasikan penggunaan plastik atau kantong mayat, kecuali untuk kasus-kasus tertentu.

“(Pakai kantong mayat) jika banyak cairan tubuh yang keluar dari jenazah,” kata Panji kepada Kompas.com, Kamis (9/4/2020).

WHO juga tidak merekomendasikan disinfeksi jenazah. Bahkan kalau dari protokol WHO, tidak ada larangan penanganan jenazah oleh keluarga.

Tentunya dengan memerhatikan alat perlindungan diri (APD) bagi yang menangani jenazah dan praktik distancing atau jaga jarak aman selama prosesi dilakukan.

“Saya rasa protokol penanganan jenazah yang bukan hanya aman tapi juga ramah budaya harus ada,” tegas dia.

Pelatihan penanganan jenazah pasien Covid-19

Pemerintah atau organisasi profesi bisa mengembangkan protokol penanganan jenazah pasien Covid-19 dan melatih masyarakat. Pelatihan ini bisa dilakukan misalnya melalui masjid atau gereja atau rumah duka.

Sementara itu, Panji juga menegaskan pada saat prosesi memang masih ada kemungkinan terjadinya penularan virus corona melalui cairan yang keluar dari tubuh jenazah.

Oleh sebab itu, pengurus jenazah harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap, dan prosedur di Indonesia melakukan disinfeksi, klorin dan juga kantong plastik sebagai keamanan serta pencegahan penularan.

Virus butuh sel inang untuk bertahan hidup, dan sel inang di tubuh jenazah juga ikut mati seiring waktu.

Virus corona SARS-CoV-2 ini berbeda dengan jenis bakteri yang memang ada sebagian besar bisa bertahan hidup dan mencemari tanah.

Seperti mikroba Bacillus anthracis penyebab penyakit antraks, yang akhir tahun 2019 lalu terjadi di Gunungkidul, Yogyakarta.

Panji menegaskan pada jenazah pasien Covid-19 yang sudah dimakamkan, tidak akan ada indikasi penularan virus corona yang bisa terjadi melalui tanah.

Sumber Berita / Artikel Asli : Kompas

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here