Untung dan Buntung Tambahan Cuti Bersama Bagi Ekonomi RI

356

Jakarta — Kadin menilai keputusan pemerintah menambah cuti bersama memberikan keuntungan sekaligus kerugian bagi pengusaha. Di satu sisi, tambahan libur dinilai menguntungkan sektor pariwisata dan konsumer.

Namun, di lain pihak tambahan libur justru dianggap menekan sektor lainnya terutama manufaktur. Meskipun memberikan dampak ke dunia usaha, Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani mengaku pengusaha tidak dilibatkan dalam pembahasan tambahan liburan tersebut.

“Sepengetahuan saya kami tidak diajak bicara,” katanya kepada CNNIndonesia.com.

Shinta sendiri memaklumi keputusan pemerintah tersebut. Ia hanya berprasangka baik bahwa kebijakan tersebut dilakukan karena pemerintah ingin menggerakkan sektor pariwisata dan konsumer yang belakangan tertekan wabah virus corona. Namun, ia menyatakan pemerintah juga perlu mempertimbangkan pengaruh tambahan libur kepada sektor lainnya.

“Penambahan cuti ini sifatnya tiba-tiba, sehingga mengganggu planning (perencanaan), kinerja, dan target perusahaan di berbagai sektor lain selain pariwisata karena periode kerja normal menjadi lebih singkat,” paparnya.

Untuk diketahui, pemerintah menambah cuti bersama Lebaran dua hari, yakni pada 28 dan 29 Mei 2020. Dengan tambahan itu, maka total maka libur pada periode Lebaran menjadi 10 hari termasuk Sabtu-Minggu, yakni mulai 22-31 Mei 2020.

Selain itu, pada 21 Mei dan 1 Juni juga ditetapkan sebagai hari libur nasional yakni Kenaikan Isa AlMasih dan Hari Lahir Pancasila. Dengan demikian, total hari libur menjadi 12 hari termasuk akhir pekan.

Banyaknya hari libur, menurut Shinta, akan mengorbankan produktivitas, sementara biaya tenaga kerja terus berjalan sebagai beban perusahaan. Tak tertutup kemungkinan, target produksi perusahaan akan meleset.

Di sisi lain, jika perusahaan tetap beroperasi selama cuti bersama, maka biaya tenaga kerja akan meningkat karena harus memberikan kompensasi lembur. “Umumnya untuk industri non pariwisata, tambahan libur, apalagi yang tiba-tiba dan tidak masuk dalam perhitungan perusahaan sebelumnya akan mengganggu produktivitas karena hari kerja menjadi berkurang secara tidak terduga untuk memenuhi target produksi,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto menyatakan hal serupa. Menurutnya, tambahan libur memberikan keuntungan sekaligus kerugian pada pengusaha.

Bagi sektor manufaktur, kata dia, kebijakan tersebut akan merugikan karena jumlah hari libur lebih panjang. Di sisi lain, kebijakan itu akan mendorong sektor pariwisata dan konsumer.

Namun demikian, ia memprediksi keuntungan pada sektor tersebut tidak terlalu signifikan. Bahkan mungkin, keuntungan yang diberikan kemungkinan lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Pun demikian halnya dengan kerugian yang diderita sektor manufaktur. Ia menyebut masyarakat masih diselimuti kekhawatiran terhadap penyebaran virus corona.

Terlebih, saat ini Indonesia memiliki 19 pasien positif virus corona. Ia memprediksi masyarakat cenderung menghabiskan hari libur di rumah maupun sanak saudara ketimbang mengunjungi tempat pariwisata.

“Apakah kemudian dengan perpanjangan liburan lalu masyarakat mengunjungi destinasi wisata? Saya kita tidak. Sebab, kondisinya walaupun tidak panik tapi, masyarakat masih khawatir kalau kemudian harus interaksi atau bergumul dengan orang banyak,” katanya.

Bahkan, lanjut Eko, penurunan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara mulai tampak sejak beberapa bulan lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia turun 7,62 persen pada Januari 2020, akibat penyebaran virus corona.

Sumber Berita / Artikel Asli : CNN Indonesia

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here