Soal Penangakapan Aktivis Papua, Peneliti LIPI Takutkan Ada Aksi Balas Dendam: Sangat Dilematis

386

Koordinator Jaringan Damai Papua yang juga Peneliti LIPI, Adriana Elisabeth mengatakan penetapan tersangka sejumlah aktivis Papua, dapat memicu permasalahan baru.

Diketahui sejumlah aktivis Papua ditetapkan sebagai tersangka oleh Penyidik Polda Metro Jaya terkait pengibaran bendera Bintang Kejora di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Rabu (28/8/2019).

Dilansir TribunWow.com, hal itu diungkapkan Adriana saat menjadi narasumber di program Mata Najwa, yang diunggah dalam saluran YouTube Najwa Shihab, Kamis (5/9/2019).

Adriana menuturkan situasi penetapan tersangka menurutnya dilematis.

Bahkan ia mendengar akan ada reaksi demo lanjutan.

“Ini situasinya sangat dilematis ya, dengan ada penangkapan itu, akan ada respons balik. Misalnya saya mendengar besok atau lusa ada demo lagi,” ujar Adriana.

Ia lantas mengatakan ada proses yang dianggap tak adil.

Adriana kemudian menanggapi ucapan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto, tentang proses penyelesaian pelanggaran HAM di Papua.

“Artinya itu ada proses yang dianggap tidak adil untuk orang-orang di Papua.”

“Termasuk kalau saya boleh kembali sedikit termasuk oleh Pak Wiranto tadi dari proses HAM dia.”

“Itu bagi masyarakat ada proses yang dilewati. Karena bukan sekedar proses hukum, tapi bagaimana rakyat korban itu diberikan keadilan,” paparnya.

“Misalnya korban itu boleh tahu alasan kekerasan itu terjadi. Nah proses itu yang sepertinya hilang,” ungkap Wiranto.

Ia kemudian melanjutkan tanggapannya terhadap penangkapan Veronica Koman.

“Nah terkait penangkapan ini juga sama, ketika mereka mengalami rasisme dan persekusi, tiba-tiba prosesnya yang ditangkap mahasiwanya,” jelas Adriana.

“Nah hal-hal seperti itu kan menjadi terakumulasi cerita-cerita ini, membuat kemudian menjadi punya pemikiran untuk melakukan demo untuk membalas sikap-sikap seperti itu. Ini mau sampai kapan berlaku?,” tanyanya.

“Kita harus memikirkan bagaimana membuat berhenti aksi balas dendam itu,” pungkasnya.

Lihat videonya dari menit awal.

 

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyatakan aparat kepolisian saat menangkap enam orang berkaitan dengan aksi  dikutip Tribunow.com dari Kompas.com, Rabu (4/9/2019).

Argo menceritakan hal itu bermula polisi menangkap dua orang tersangka yakni Anes Tabuni dan Charles Kossay di Asrama Lani Jaya, Depok, Jawa Barat, Jumat (30/8/2019).

“Anes Tabuni berperan mengibarkan bendera Bintang Kejora, orator, dan pengerah massa aksi. Sementara itu, Charles Kossay berperan sebagai koordinator aksi, orator, dan pengerah massa aksi pada tanggal 28 Agustus,” kata Argo dalam keterangan tertulis, Rabu (4/9/2019).

Selanjutnya, polisi menangkap dua tersangka lainnya yakni Ambrosius Mulait dan Isay Wenda di depan Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.

Keduanya mendatangi Polda Metro Jaya untuk memprotes penangkapan dua rekannya pada Jumat (30/8/2019).

Mereka lantas diizinkan untuk bertemu penyidik Polda Metro Jaya guna menyampaikan aspirasi.

Lalu, penyidik menjelaskan kepada keduanya bahwa polisi telah menangkap kedua rekannya sesuai aturan.

Namun, Ambrosius dan Isay kembali menggelar aksi protes pada Sabtu (31/8/2019).

Penyidik kemudian mengamankan keduanya pada hari itu pukul 17.00 karena mereka terbukti terlibat dalam kasus dugaan tindak pidana makar berdasarkan keterangan saksi dan rekaman video amatir.

“Ambrosius Mulait berperan sebagai koordinator aksi, pengibar bendera Bintang Kejora serta pengarah massa aksi. Sementara, Isay Wenda berperan sebagai ketua dan penanggung jawab aksi,” ungkap Argo.

Argo mengungkapkan, polisi kemudian mengembangkan penyidikan kasus tersebut dan menangkap dua tersangka lainnya.

Satu tersangka bernama Paulus Suryanta Ginting, ditangkap Sabtu (31/8/2019) malam di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.

Berdasarkan keterangan saksi, Suryanta terbukti terlibat dalam kasus dugaan tindak pidana makar.

“Yang bersangkutan berperan sebagai inisiator dalan tiga pertemuan yang mempersiapkan aksi.”

“Dia juga berperan sebagai koordinator pemberitaan media dengan mengundang media asing untuk mengangkat isu mengenai kemerdekaan Papua melalui referendum,” ungkap Argo.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (29/6/2019).
Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (29/6/2019). ((KOMPAS.com/Walda Marison))

Kemudian tersangka lainnya bernama Erina Elopere bersama dua rekannya ditangkap di kawasan Tebet, Jakarta Selatan pada Sabtu (31/8/2019), malam.

Namun, setelah diperiksa, kedua rekannya dibebaskan karena tidak terlibat dalam pengibaran bendera Bintang Kejora.

“Erina diduga berperan sebagai pengibar bendera Bintang Kejora,” ungkap Argo.

Keenam tersangka saat ini ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat dan dijerat pasal makar sebagaimana tercantum dalam Pasal 106 dan 110 KUHP.

.tribunnews.

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here