Fahri Hamzah murka elite KPK, sombong amat kurang ajar jenderal korbannya

215
Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah. Foto Instagram @fahrihamzah

Politikus Fahri Hamzah dikenal sebagai tokoh yang sudah lama konsisten kritik posisi KPK dalam penegakan hukum. Bicara KPK, Fahri baru-baru ini dongkol banget dengan kelakuan pejabat dan elite KPK yang sombong amat gitu, merasa paling berkuasa dalam penegakan hukum.

Kejengkelan Fahri bukan cuma pada elite KPK saja lho. Mantan Wakil Ketua DPR itu juga jengkel dengan kelakuan pegawai KPK yang juga sombong. Gimana ya ceritanya Sobat Hopers.

Fahri Hamzah kesal orang KPK jadi aneh dan sombong

Gedung Merah Putih KPK
Gedung Merah Putih KPK di Kuningan Jakarta. Foto Antara/Indrianto Eko Suwarso/foc.

Fahri blak-blakan gusar dengan kelakuan para pejabat, elite KPK serta pegawai KPK pula. Yang elite kelakuannya aneh jadi berjarak, sedangkan yang pegawai pun sama nggak menerima perspektif dari luar seakan-akan mereka itu paling benar dalam penegakan hukum.

“Semua tahu teman-teman kita yang menjabat di KPK jadi aneh, bukan saja pada para pimpinan, pegawai di bawahnya jadi aneh. Menjadi tak bisa bersahabat dengan orang, pergaulan hilang, bergaul dengan politisi itu dianggap akan rusak, diskusi pun nggak dikehendaki, mau diskusi nggak diterima,” jelas Fahri dalam perbincangan di kanal Karni Ilyas Club, dikutip Jumat 4 Juni 2021.

Fahri melihat elite dan pegawai KPK jadi sombong lantaran mereka terbawa dengan imajinasi KPK adalah lembaga penegak hukum super. Lebih bagus dan super dari penegak hukum lainnya.

Imajinasi dan keyakinan itu, ujar Fahri membuat pimpinan dan pegawai KPK berubah sikapnya.

“Saya sudah ingetin orang-orang itu tapi kalau sudah jadi orang KPK itu berubah. Kalau jadi orang KPK itu tepuk dada, saya ini orang pemberantas korupsi, inilah yang ditakuti koruptor,” ujar Fahri mengkritik.

Sikap tersebut menurutnya bisa merusak KPK di kemudian hari. Seharusnya orang yang diberi kekuasaan, dalam hal ini penegakan hukum, ya jangan sombong dan angkuh dong. Merasa sok paling berkuasa.

“Padahal orang pegang kekuasaan harusnya rendah hati, makin rendah hati. Ini makin langsung sombong pengen jadi politisi, lobi di belakang pengen jadi wapres. Kelakuannya begitu. UU KPK yang merusak orang-orang ini, saya kesimpualnnya begitu,” katanya.

Sombongnya KPK, jenderal calon Kapolri korbannya

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (Purn) Budi Gunawan.
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (Purn) Budi Gunawan. Foto: Antara

Nah Fahri membuktikan kelakuan elite pejabat KPK yang aneh dan terkesan sombong, lihat saja pada kasus penetapan tersangka pada jenderal calon Kapolri, Komjen Budi Gunawan bertahun-tahun lalu.

Dalam kasus ini, Fahri terang mengkritik keras KPK yang main menetapkan tersangka tanpa melalui pemeriksaan Komjen Budi Gunawan sebagai saksi. Jenderal bintang tiga itu aslinya mulus dalam proses pencalonan Kapolri. Budi Gunawan mulus di DPR, Komisi III juga mulus saat uji kepatutan dan kelayakan. Tapi mentah di tangan KPK dengan status tersangka.

“Penetapan tersangka pak Budi Gunawan misalnya, gimana itu? nggak diperiksa tiba tiba di-tersangka-kan, hanya karena besoknya mau jadi Kapolri. Eh orang belum diperiksa, gimana belagu tuh,” katanya.

Kala itu, Fahri sampai ditelpon pimpinan KPK yang minta pengamanan isu dan narasi. Dalam perbincangan telepon itu, Fahri terang mendebat manuver pimpinan KPK tersebut.

“Saya ditelpon oleh salah satu pimpinan KPK dia bilang bang tolong bang kita mau perang ini, kita mau melawan ‘merah’. Saya bilang ‘merah’ gimana, ini Presiden dukung Budi Gunawan. Saya jawab ya itu kan proses seleksi intelijen screening dan lainnya. Terus dia jawab, ya nggak bisa lah kita ada bukti,” kisah Fahri.

Mantan politikus PKS ini tahu sih, kala itu semua pimpinan KPK aklamasi Budi Gunawan tersangka. Tapi kok ya proses penetapan ini nggak memerhatikan asas hukum sih, keluh Fahri.

“Seorang calon Kapolri di-tersangka-kan tanpa diperiksa. Ini kelakuan apa kayak gini, ini kurang ajar. Akhirnya Budi Gunawan maju Praperadilan dan menang. Di eksekutif lolos, yudikatif lolos nggak dilantik karena opini media, lobi sana sini. Jadi dia itu berpolitik, oh gini..akhirnya mereka berantem dengan pak Budi Gunawan, terang dong orang dianiaya kayak gitu,” tuturnya.

Sumber Berita / Artikel Asli : HOPS

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here