Ini yang harus dilakukan agar data pribadi kita aman, Simak kata pakar berikut ini…

267

Dugaan kebocoran data 279 juta penduduk Indonesia sontak membuat publik geger. Data yang dijual secara online melalui sebuah forum tersebut kemudian diinvestigasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Publik jelas dibuat khawatir akan keamanan data yang bisa bocor dan disalahgunakan. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menjaga keamanan data pribadi?

Saran dari Pengamat Keamanan Siber dari Vaksincom Alfons Tanujaya ini layak disimak ya, Sobat Hops…

Dilansir dari Antaranews.com, Alfons mengatakan bahwa semua orang Indonesia harus memiliki asumsi bahwa data yang diberikan ke berbagai layanan yang digunakan “sudah bocor”.

“Orang Indonesia perlu punya asumsi bahwa datanya ‘sudah bocor’. Sehingga, jangan lakukan hal-hal penting dengan gunakan data-data yang sudah bocor ini,” ujar Alfons, Minggu (23/5/2021).

Dikatakan Alfons, jika kita hendak membuat username dan password, hindari untuk menggunakan data-data yang sudah bocor. Seperti misalnya KTP sudah bocor, jadi nama, NIK, tempat dan tanggal lahir (juga bocor).

“Maka, jangan membuat PIN menggunakan data lahir kita karena nanti mudah tertebak. Jangan membuat password dari tempat dan tanggal lahir, itu mudah ditebak karena datanya sudah bocor,” tutur Alfons.

Tentang antisipasi yang diambil Kemenkominfo yakni dengan melakukan pemblokiran ke sejumlah laman web yang diduga menyebarkan data, Alfons menilai langkah tersebut kurang tepat.

“Jika diibaratkan pepatah, ‘buruk muka cermin dibelah’. Pemblokiran (menurut saya) tidak memecahkan masalah. Orang lain bisa saja menggunakan VPN dan mengaksesnya dari (VPN) negara lain,” kata Alfons.

Pengamat keamanan siber dari Vaksincom Alfons Tanujaya. Foto: Ist
Pengamat keamanan siber dari Vaksincom Alfons Tanujaya. Foto: Ist

Dugaan kebocoran data yang berasal dari BPJS Kesehatan menurut Alfons harus diinvestigasi mendalam. “Saya harapkan segera diinvestigasi. Kalau memang ada kesalahan dan itu datanya, sportif saja mengakui, daripada berkata ‘mengelola data kompleks’. Data yang kompleks itu malah membuat khawatir, karena makin susah dikelola dan mengandung potensi kelemahan. Justru harus lebih hati-hati,” papar Alfons.

Dia berharap BPJS Kesehatan segera menemukan masalahnya dan diidentifikasi kemudian diperbaiki segera.

Lebih lanjut diungkap Alfons, keamanan siber bukan hanya tanggung jawab masyarakat, namun tanggung jawab bersama.

“Ini bukan hanya soal masyarakat dan pemerintah, namun pengelola data lain seperti unicorn, layanan telekomunikasi, hingga bank, yang mengelola ratusan juta data masyarakat. Diperlukan keterampilan dan satu standar pengelolaan data yang baik,” ujar Alfons.

Dia berharap agar data yang diduga bocor tersebut tidak disalahgunakan. “Pengelola data harus mengerti dan sadar bahwa data merupakan amanah, bukan berkah, untuk malah diperjualbelikan secara tidak bertanggung jawab,” pungkas Alfons.

Sumber Berita / Artikel Asli : Hops

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here