PDIP Vs PD Panas Lagi Gegara Cerita ‘SBY Bilang Megawati Kecolongan’

96
SBY dan Megawati (Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta – Partai Demokrat versus PDIP panas lagi. Semua gara-gara cerita soal ‘SBY bilang Megawati kecolongan’. Begini duduk perkaranya.

Perihal SBY bilang Megawati kecolongan ini disampaikan mantan Sekjen Partai Demokrat Marzuki Alie. Menurut Marzuki, pada 2004, SBY saat itu mengajaknya bertemu di hotel dan terjadilah obrolan soal ‘Megawati kecolongan’ ini.

“(Tahun) 2004 ya, setelah menang, bukan menang, lolos dalam pemilu legislatif, dapat 7 sekian persen, saya ketemu SBY empat mata juga, disaksikan Pak Hadi Utomo,” kata Marzuki, yang mempersilakan pernyataannya dikutip, Kamis (18/2/2021).

Marzuki Alie mengaku saat itu tak mengerti dipanggil SBY. Kala itu, dia menduga SBY hendak menggelar rapat.

“Saya juga kaget tadinya, kok ketemu saya sendiri. Rupanya di dalam bicara itu beliau menyampaikan, ‘Ki, kita sudah lolos’, karena saya sebelumnya ikut dalam kampanye ya sebagai narasumber sering bicara di forum-forum tim-tim kampanye, jadi Pak SBY tahu persis kerjaan saya waktu itu,” tutur Marzuki Alie.

Marzuki, yang pernah menjabat Ketua DPR, lantas mengulang ucapan SBY dalam pertemuan tempo lalu itu. Menurutnya, SBY menyebut Megawati akan kecolongan karena langkah yang akan dilakukannya saat itu.

“Pak SBY menyampaikan, ‘Pak Marzuki, saya akan berpasangan dengan Pak JK. Ini Bu Mega akan kecolongan dua kali ini’. Kecolongan pertama dia yang pindah, kecolongan kedua dia ambil Pak Jk. Itu kalimatnya. ‘Pak Marzuki orang pertama yang saya kasih tahu. Nanti kita rapat begini-begini’. Ada beberapa yang disampaikan ke saya, ‘nanti saya kenalkan ini, nanti gini‘,” ucap Marzuki Alie.

Setelah mendengar pernyataan SBY, Marzuki mengaku bertanya kepada SBY apa yang harus dia lakukan saat itu. Dia mengaku diajak SBY bergabung dengan Partai Demokrat dan kemudian meninggalkan jabatannya di perusahaan semen.

Respons PDIP

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menanggapi cerita soal ‘SBY bilang Megawati kecolongan 2 kali’ dengan mengutip semboyan Sansekerta Satyameva Jayate, yang bermakna hanya kebenaran yang berjaya. Hasto menyinggung langkah SBY pada 2004 yang disebutnya bertindak seakan-akan dizalimi.

“Dalam politik kami diajarkan moralitas politik, yaitu satunya kata dan perbuatan. Apa yang disampaikan oleh Marzuki Alie tersebut menjadi bukti bagaimana hukum moralitas sederhana dalam politik itu tidak terpenuhi dalam sosok Pak SBY. Terbukti bahwa sejak awal Pak SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri, termasuk istilah ‘kecolongan dua kali’, sebagai cermin moralitas tersebut,” kata Hasto.

Menurut Hasto, publik kini bisa menilai cerita SBY dizalimi Megawati hanyalah politik pencitraan. Hasto mengenang kisah yang disampaikan almarhum Prof Dr Cornelis Lay bahwa sebelum SBY ditetapkan sebagai Menko Polhukam di Kabinet Gotong Royong Presiden Megawati Soekarnoputri, saat itu ada elite partai yang mempertanyakan keterkaitan SBY sebagai menantu Sarwo Edhie yang dipersepsikan berbeda dengan Bung Karno, dan juga terkait dengan serangan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996. Namun, kata Hasto, Megawati Soekarnoputri mengatakan hal sebaliknya.

Sumber Berita / Artikel Asli : Detik

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here