Paus Fransiskus: Selayaknya Makanan dan Seks Adalah Kenikmatan Ilahi

121

Paus Fransiskus dalam wawancaranya dengan Carlo Petrini, seorang penulis kuliner Italia, kali ini membahas mengenai hubungan makanan dan seksual.

“Kesenangan datang langsung dari Tuhan. Bukan Katolik, bukan Kristen. Itu kenikmatan Ilahi,” kata Francis, seperti dikutip dari Huffpost, Kamis (18/2).

Pernyataan tersebut ia lontarkan sebagai bagian dari kritiknya soal “moralitas yang berlebihan” dari Gereja Katolik Roma. Tempat ibadah tersebut dahulu pernah mengecam kesenangan masa lalu, menyebut “interpretasi yang salah dari pesan Kristen.”

“Gereja telah mengutuk kesenangan yang tidak manusiawi, brutal, vulgar, tetapi di sisi lain selalu menerima kesenangan moral yang manusiawi, sederhana,” kata Francis.

“Kenikmatan makan ada untuk membuat Anda tetap sehat dengan makan, seperti kenikmatan seksual yang ada untuk bercinta lebih indah dan menjamin kelestarian manusia. Kenikmatan makan dan kenikmatan seksual (datang) dari Tuhan.”

Francis juga membahas mengenai film “Babette’s Feast” 1987. Ia mengatakan film tersebut mewakili pandangannya tentang kedua kesenangan alami tersebut.

Film berlatar abad ke-19 ini berkisah tentang seorang chef pemenang lotre yang mengundang sekelompok umat Protestan ke jamuan makan mewah. Di mana salah satu adegan film menunjukkan chef yang mendapat penghargaan kecil, berupa pelukan atas hidangan nikmatnya.

“Kita dapat membayangkan adegan indah dalam film ‘Babette’s Feast,’ ketika juru masak yang murah hati menerima pelukan dan pujian syukur: ‘Ah, betapa kamu akan menyenangkan para malaikat!” ujar Paus Fransiskus.

Menambahkah, mengacu pada pernyataan mengenai kegiatan makan dan seks, komentator Katolik Peter Williams kepada Newsweek, juga memperjelas pandangan Paus Fransiskus dengan mengatakan “Fransiskus hanya mengulangi pesan Kristen abadi tentang kebajikan dan keburukan.”

Hasil wawancara Fransiskus dengan Petrini ini kemudian diterbitkan dalam buku “Terra Futura: Conversations With Pope Francis on Integral Ecology.” Buku tersebut baru saja dirilis beberapa minggu lalu. Buku itu membahas tema utama mengenai budaya, komunitas, dan lingkungan.

Sebagai info tambahan, Carlo Petrini adalah penulis kuliner sekaligus aktivis “slow food” atau gerakan “makan lambat” yang terbentuk pada 1980-an. Ia sangat menentang keberadaan “fast food” atau “makanan cepat saji.”

Sumber Berita / Artikel Asli : Kumparan

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here