Ketua Front Santri Indonesia: Waspada Kurikulum Pesantren Mau Diobok-obok

255

Ketua Umum DPP Front Santri Indonesia Muhammad Hanif Alathas meminta Kyai dan Pesantren untuk waspada peluang kurikulum Pesantren diobok-obok dalam rangka deradikalisasi.

Hal ini menanggapi komentar Imam Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar di kantor BNPT, Rabu (10/6/2020) yang mengusulkan untuk mengkaji ulang pelajaran fikih di pondok pesantren jika hendak menangkal paham radikal. Alasannya, pelajaran Fiqih sekarang adalah hasil produk era Perang Salib.

“Kalau ada profesor yang mengatakan kitab fiqih saat ini adalah produk perang salib maka profesor tersebut perlu mondok lagi di pesantren agar cerdas dan tidak gagal faham soal sejarah fiqih serta proses lahirnya hukum fiqih,” ujar Hanif Alathas dalam siaran pesan singkatnya yang diterima hidayatullah.com, Kamis (11/6/2020).

Menurut menantu Habib Rizieq Shihab ini, Fiqih itu adalah hasil Istinbath (Pengambilan Hukum) para Ulama Mujtahid Mutlaq dari sumber-sumber hukum; Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas, dan lainnya.

Hukum-hukum hasil Istinbath tersebut dikembangkan oleh ulama generasi berikutnya (Mujtahid Madzhab, Mujtahid Tarjih, Mujathid Fatwa, dst)  dengan sangat teliti dan hati-hati tanpa keluar dari metodologi  yang digariskan oleh Imamnya dengan sanad keiImuan yang bersambung sampai kepada  Rasulullah saw.

“Dari situlah asal usul kitab-kitab Fikih yang dipelajari diberbagai pesantren saat ini.” Pangkasnya.*

Sumber Berita / Artikel Asli : Hidayatullah

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here