Siti Fadilah Curhat ke Deddy Corbuzier, ‘Saya Tahu Musuh Saya Besar’

273

 MANTAN Menteri Kesehatan Siti Fadilah menceritakan banyak hal kepada presenter Deddy Corbuzier saat bertemu di salah satu rumah sakit, dan tayang di channel Youtube berjudul ‘Siti Fadilah, Sebuah Konspirasi-Saya Dikorbankan’, Kamis (21/5/2020).

Salah satunya adalah bahasan tentang vaksin untuk Covid-19 yang diyakini tak harus dibeli dari Bill Gates atau untuk tidak mengikuti saran WHO. Sebab, Siti berpengalaman pernah mengalahkan WHO saat mengatasi flu burung tanpa vaksin dan menghentikan pandemi, meski entah bagaimana dia dilibatkan dalam korupsi dan kemudian harus berakhir di penjara.

Soal Bill Gates, Siti juga punya pandangan tersendiri. Dia mengikuti perkembangan salah satu pria terkaya dunia itu, tepatnya saat di forum ekonomi internasional Bill Gates menjadi pembicara utama, dimana Gates membicarakan vaksin dan pandemi. “Kenapa enggak pandeminya dihentikan kenapa dibuat vaksinya. Dia bukan dokter, kenapa dia begitu fasih akan terjadinya pandemi. Dunia akan butuh vaksin segini miliar, menurut saya tidak masuk di akal saya. Dia pebisnis, mungkin dia ahli virus di komputer (tapi tidak ahli virus penyakit medis),” jelasnya.

Ditambahkannya, seluruh dunia tempat pembuat vaksin didukung oleh Bill Gates. “Saya tidak mencurigai tapi orang bisa berpikir sendiir,” ungkapnya.

Siti menyebutkan sejatinya pandemi Covid-19 ini tidak terlalu berat seperti flu burung yang sempat menyerang Indonesia beberapa tahun silam. Sebab, pasien Covid-19 masih bisa bertahan beberapa hari bahkan sembuh.

Saat mengatasi pandemi flu burung dirinya bisa mematahkan secara scientific mengenai pernyataan WHO yang mengatakan sudah terjadi penularan manusia ke manusia (human to human transmission).

Lalu Siti Fadilah Supari membuat resolusi yang didukung oleh 128 negara dan akhirnya mengalahkan WHO dan vaksi untuk flu burung tak jadi dijual ke negara membutuhkan. Sebab, kata Siti jika kita membeli vaksin maka utang negara akan bertambah.

“Kita mereformasi WHO, yang tadinya WHO tidak adil terhadap dengan negara-negara berkembang seperti kita. Saya reformasi, kita punya kedudukan yang sama, WHO harus transparan. Tidak ada yang di bawah di atas. Kalau sakit semua harus menolong, semua harus berpikir. Saya membuktikan tidak perlu vaksin (flu burung). WHO berkoar-koar flu burung menular human to human. Saya engak mau, jangan ngomong dulu, saya akan buktikan. Kemudian saya protes ke PBB sehingga stop flu burung tidak pakai vaksin. Menyelesaikan pandemi flu burung dengan transparansi,” tutunya.

Dia meyakini setiap pandemi pasti muncul vaksin dan obat juga sekelompok mafia. “Mungkin saja (virus ini dibuat sekelompok orang). Mungkin China itu korban, Amerika itu korban. (Ini) perkiraan saya belum tentu benar,” tegasnya.

Siti mengatakan jika dia menjadi Menkes saat ini, dia akan mengambil langkah dengan mendukung lokal membuat vaksin sendiri, karena banyak ilmuan negeri sendiri yang mumpuni. “Indonesia harus mandiri buat vaksin sendiri. Kita bisa buat vaksin sendiri,” tandasnya.

Perbincangan keduanya kemudian menyinggung soal kasus hukum yang menimpa Siti yang diduga berkaitan dengan sikap kerasnya soal menolak vaksin dari luar.

“Saya berbuat itu bukan untuk saya, saya enggak dapat apa-apa. Ternyata bukan hanya Indonesia yang terlindungi, tapi pandemi (flu burung saat itu) gagal di seluruh dunia. Hasilnya menang kita, ibunya (saya) dipenjara, ironis ya,” ucapnya ke Deddy.

Siti mencoba memahami takdirnya sebagai yang terbaik dari Allah. Sebab, satu sisi disyukurinya bahwa dalam penjara dia diperlakukan baik oleh sesama tahanan. Bahkan, dia masih dipanggil bu menteri. “Baik saja di penjara, tidak ada bedanya. Dan saya di penjara dipanggil Bu Menteri malahan. Padahal sudah lama enggak jadi menteri. Saya pengen ketawa, lucu,” jelasnya.

“Saya jadi sepuh (di penjara). Kebahagiaan itu ada di hati bukan dimana Anda duduk,” timpalnya.

Soal siapa sebenarnya yang ingin menenggalamkannya, Siti tak ingin lebih banyak mengungkap. “Saya tahu musuh saya besar, saya ngalah, saya bukan kalah, saya mengalah. Tapi saya pernah menang. Saya lebih baik jadi harimau sehari daripada jadi kambing seumur hidup,” ungkapnya.

Siti akan menghirup bebas dalam waktu empat bulan lagi tepatnya Oktober 2020. Satu yang disesalkannya mengapa dia tidak dapat program asimilasi yang diperuntukkan saat pandemi ini. “Saya high risk (usia beresiko tinggi) asma ada, hipertensi yang terkontrol ada, jantung iramanya enggak benar. Kok saya tidak dirumahkan, si embah-embah itu dipulangkan, dirumahkan,” tandasnya.

Soal PP No 99 yang tidak memfasilitasi napi koruptor, Siti mengungkapkan pendapatnya. “PP itu tidak dibuat saat pandemi kok diberlakukan saat pandemi. Saya heran kok takut banget sama PP 99 lebih takut daripada sama Tuhan. Dunia ini aneh,” kritiknya.

Kelak bebas nanti, Siti tak memiliki banyak agenda. “Saya ingin mengalir sepertu air, menyuarakan kebenaran dan semua untuk rakyat,” pungkasnya. (nin/pojoksatu)

Sumber Berita / Artikel Asli : pojoksatu

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here