Pesona dan Modus Mesum Alumnus UII yang Diduga Lecehkan 30 Perempuan

599

Mata Meila Nurul Fajriah dari LBH Yogyakarta berkaca-kaca. Perempuan yang tengah menjadi kuasa hukum korban dugaan pelecehan seksual seorang alumnus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta berinisial IM ini tersengal-sengal ketika menyampaikan press release via Zoom, Senin (4/5).

Dari hari ke hari jumlah orang yang mengaku korban IM ini terus bertambah hingga mencapai angka 30. Tentu tak terbayang baginya mendengar cerita kelam 30 orang perempuan yang diduga menjadi korban pelecehan seksual alumnus UII. Tentu ini menyesakkan bagi Meila.

Laporan pertama peristiwa dugaan pelecehan seksual IM terjadi 11 April lalu. Kasus ini semakin terkuak di publik, jumlah korban semakin bertambah dari 5 kemudian 15 dan hingga ke angka 30. Tak hanya di Indonesia, korban juga dilaporkan ada yang berada di Australia, tempat kini IM menimba ilmu. Rentang tahunnya dari 2016 hingga 2020.

Kajian Meila dan kawan-kawan telah terjadi apa yang disebut relasi kuasa yang kuat dan timpang dalam kasus ini.

Lalu siapakah IM? IM merupakan sosok populer di UII. Dia adalah mahasiswa lulusan jurusan arsitektur yang cemerlang. Gelar sebagai mahasiswa berprestasi UII tahun 2015 juga menjadi bukti sahih. Meski akhirnya gelar tersebut dicabut pihak kampus usai dugaan kasus tak pantas ini mencuat.

Pesona IM teramat paripurna. Dia adalah idola, menjadi pengisi seminar, dan pembicara utama di usia muda. Media sosialnya pun jauh dari kesan urakan, dia santun, pun pandai. Setiap unggahannya selalu berbau motivasi. Ini membuat juniornya di kampus terbuai dan ngefans berat padanya.

“Penyintas yang menjadi korban tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh IM mayoritas adalah juniornya di satu kampus, satu komunitas ataupun beberapa orang yang menjadi ‘fans’ dari pelaku. Pelaku sangat popular,” kata Meila.

“Dari kronologi yang ada, kami menangkap ada rasa gembira saat awal diajak berkomunikasi dengan IM, karena dia banyak memberikan pesan motivasi seperti bagaimana mendapatkan beasiswa dan bisa sering mengikuti konferensi di luar negeri,” ujar Melia.

Kondisi seperti inilah yang membuat korban menjadi tak berdaya dengan apa yang dilakukan IM. Semisal tiba-tiba IM chat berbau mesum atau video call dengan melakukan tindakan tak senonoh.

IM tak segan memaksa korban mengangkat telepon dengan rayuan yang sulit ditolak. Apalagi kalau bukan citra dirinya yang sangat baik.

“Sehingga saat mengangkat panggilan telepon atau video, mereka kaget dan seperti tidak tahu harus berbuat apa saat IM mulai mempertanyakan hal bernada sensual atau memperlihatkan bagian tubuhnya dan bahkan saat dirinya sedang masturbasi,” ujarnya.

Situasi setelahnya korban hanya bisa menahan malu. Chat mesum dari pelaku dihapus lantaran korban bingung. Di saat seperti itu ketika korban bercerita ke orang lain tidak akan mudah. Selain karena beban mental, ada citra baik IM di mata orang lain.

Kepopuleran IM ini sepertinya jadi jalan dia untuk berbuat tindakan tidak senonoh. Meila menceritakan bagaimana awal mula korban terjerembab ke duka lara karena IM. Apa yang diceritakan Meila dalam rilis daring ini sudah mendapat persetujuan korban. Bukan untuk apa-apa, tapi untuk keadilan.

IM yang populer mudah me-DM korban melalui IG maupun WhatsApp. Awalnya bercanda dan membahas perkuliahan. Kemudian tiba waktunya korban meminta motivasi pada IM. IM dengan senang hati menjawab dengan perlahan menggiring korban ke obrolan sensual. Pertanyaan yang IM lontarkan juga semakin porno.

“Eh, kamu sudah punya pacar, ya?”

“Kamu sama pacar kamu udah ngapain aja?”

“Kamu udah pernah check in hotel?”

“Udah pernah ciuman sama pacar kamu?”

“Kamu udah pernah ngesex?”

“Kamu ngekos? Kosnya bebas enggak?”

“Eh, bulu tangan kamu lebat ya, itu katanya hasrat seksualnya tinggi kalau punya bulu tangan lebat.”

Meila menirukan kalimat-kalimat yang dilontarkan IM pada korbannya.

Tak hanya chat, ada pula video call. IM terus menelepon hingga korban mengangkatnya. Hingga kalimat-kalimat di bawah ini terlontar.

“Kamu lagi di mana? Di kamar sendirian enggak?”

“Udah kamu buka jilbab aja, kan cuman ada aku.”

“Kamu coba bayangin aku ada di atas kamu.”

Meila mengatakan selain ucapan seperti itu dalam video call, tak jarang IM menampilkan dirinya sedang menunjukkan bagian privatnya.

Modus COD Buku

Ada pula modus COD buku. COD adalah singkatan dari cash on delivery. Istilah ini mengacu pada transaksi pembelian yang melibatkan antara penjual dan pembeli secara bertatap muka.
Nah, IM ini menawarkan buku IELTS dan TOEFL kepada beberapa mahasiswa. Namun ketika COD, IM tak membawa bukunya dan mengajak korban ke indekos untuk mengambil buku.

“Di sini penyintas diminta untuk mengambil bukunya sendiri di dalam kamar dan tiba-tiba IM menutup kamar tersebut, kemudian mencoba untuk memeluk penyintas dari belakang dan sentuhan tersebut membuat penyintas kaget,” ujar Melia.

Kekerasan fisik juga dilakukan IM kepada korbannya. Dia pernah memojokkan korban ke dinding, mencoba mencium, dan tindakan tidak pantas lainnya.

“Perlu diketahui bersama, bahwa upaya penyintas untuk menceritakan kisahnya adalah satu poin penting dalam penanganan kasus kekerasan seksual. Dari pengalaman yang kami miliki selama mendampingi kasus seperti ini, banyak dari penyintas menceritakan ceritanya jauh setelah kejadian itu berlangsung,” kata Meila.

Klarifikasi IM

Sementara, orang yang diduga adalah IM sudah memberikan klarifikasi di akun Instagram. Diketahui, saat ini IM sedang menempuh pendidikan di Melbourne, Australia. Melalui unggahan di Instagram, IM memberikan klarifikasi terkait kasus pelecehan seksual yang menyeretnya.

“Bahkan sebelum pemberitaan menyebar, tidak ada satu pun pihak yang menghubungi saya, meminta klarifikasi, atau tabayyun. Sehingga ketika berita tersebar secara cepat dan masif, saya tidak punya kesempatan untuk membela diri,” ujarnya, Kamis (30/4).

kumparan sudah mencoba mengirim pesan ke akun yang bersangkutan. Namun hingga Senin (4/5), dua pesan yang dikirim kumparan tak kunjung mendapat balasan.

Sikap UII

Di sisi lain, UII telah menyatakan sikap salah satunya dengan mencabut gelar mahasiswa berprestasi yang diberikan kampus kepada IM pada 2015. Gelar itu dicabut setelah kampus mendapat keterangan dari sejumlah korban dan keterangan IM. Mereka juga membentuk tim khusus menangani kasus ini.

UII juga mendorong IM agar menunjukkan itikad baik serta bertindak kooperatif.

“Tim UII sudah berkomunikasi langsung dengan IM setelah yang bersangkutan mengunggah klarifikasi di IG pribadi. Adapun pernyataan ini menjadi dasar dari rilis di poin 2 tentang UII mendorong IM untuk dapat menunjukkan iktikad baik dengan bersikap kooperatif,” kata Syarif Nurhidayat, Ketua Tim Pendampingan Psikologis dan Bantuan Hukum UII.

Kini, setidaknya ada tiga hal yang diinginkan korban, yaitu:

– IM mengakui seluruh tindakan kekerasan seksualnya kepada publik dengan tidak menyebutkan nama penyintas

– Tidak ada lagi institusi, komunitas, organisasi maupun sekelompok orang yang memberikan panggung bagi IM untuk menjadi penceramah, pemateri ataupun segala bentuk glorifikasi, termasuk di dalam Universitas Islam Indonesia.

– Universitas Islam Indonesia sebagai almamater dari mayoritas penyintas, harus membuat regulasi terkait pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus agar tidak terjadi lagi kasus-kasus yang serupa

Sumber Berita / Artikel Asli : Kumparan

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here