Gerindra Buka-Bukaan Mafia Kebutuhan Pokok yang Pura-pura Tak Diketahui Jokowi, Negara ‘Dipecundangi’ Habis-habisan

552
Sembako

JAKARTA – Aneh rasanya Presiden Jokowi hanya baru sampai pada tahap curiga adanya mafia yang bermain dalam mata rantai kebutuhan pokok bagi rakyat sehingga harga melambung tinggi.

Salah satunya adalah kebutuhan gula. Sebab sudah jelas harga gula melambung karena ada permainan dari mafia distribusi yang berkongkalikong dengan pabrikan swasta.

Begitu kata Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ferry Juliantono kepada redaksi, Rabu (22/4).

Ferry mengurai bahwa faktor permintaan melonjak bukan penyebab kongkalikong tersebut. Permainan terjadi karena suplai gula terganggu akibat impor yang tersendat.

Para mafia kemudian memanfaatkan kondisi tersebut dengan mencari keuntungan setinggi-tingginya.

Mereka menaikan harga gula hingga 50 persen. Dari sebelumnya berkisar Rp 12 ribu hingga Rp 13 ribu per kilogram menjadi Rp 19 ribu per kilogram. Waketum DPP Partai Gerindra itu juga mengurai kenapa kongkalikong bisa mudah terjadi.

Kata dia, pabrikan gula swasta sudah punya jaringan distribusi dari tingkat whole seller, distributor, dan agen.

“Sementara pemerintah tidak punya kendali atas jaringan itu karena memang “melumpuhkan diri dari sejak hulunya sampai hilirnya”,” ujarnya.
Pabrik gula, sambung ketua umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas) itu, mati satu persatu atau beralih ke swasta. Mayoritas pabrik milik pemerintah juga terlalu kuno.

Mesinnya merupakan peninggalan sejak zaman Belanda, sehingga kalah saing. Di hilir, Bulog dilumpuhkan. Bulog berubah menjadi perusahaan distributor biasa saja yang tidak lagi memiliki kuasa menjaga stabilitas harga bahan pokok penting atau sembako.

“KUD-KUD dimatikan perlahan, dan pasar-pasar tradisional terpepet retail modern yang punya akses langsung ke pabrikan. Ya sempurnalah penguasaan distribusi oleh mafia ini,” urai Ferry.

Menurutnya, satu-satunya kekuasaan yang dimiliki pemerintah kini adalah aturan. Tapi kekuatan itu urung untuk digunakan karena para pejabat khawatir kehilangan “gula-gula” dari para mafia ini.

“Jadi menurut saya, aneh bila presiden tidak tahu siapa yang bermain soal distribusi, yang ujungnya permainkan perut rakyat ini?” sambungnya.

“Kita saja yang masih awam bisa tahu kok ada mafia yang ambil rente/untung gila-gilaan. Janganlah sampai seperti kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu, sehingga ada alasan untuk tidak menindak atau tepatnya membiarkan mafia itu merajalela,” masih kata Ferry.

Sebagai solusi, wakil ketua umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) itu meminta presiden menggunakan kekuasaan yang dimiliki.

Caranya dengan memerintahkan Menteri Perdagangan menyikat habis para mafia dengan merombak aturan, sehingga para mafia itu tunduk.

“Jangan malah ke balik, penguasa yang ikut aturan mafia seperti sekarang,” tutupnya.

Sumber Berita / Artikel Asli : Pojoksatu

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here