Bank RI Dicaplok Bank Asal Thailand Lagi, Siapa Kasikornbank?

581
Foto: Kasikornbank Public Company Limited/Doc situs Kasinokorn

Jakarta – Bank asal Thailand kembali melirik perbankan Tanah Air. Kali ini giliran Kasikornbank Public Company Limited, salah satu bank terbesar di Thailand akan mengakuisisi 30,01% saham PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS).

Kedua perusahaan telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (conditional sales and purchase agreement/CSPA) pada 13 April 2020 lalu.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kasikornbank melakukan penjualan ini melalui anak usahanya Kasikorn Vision Co. Ltd (KVision). Saham yang akan dibeli ini merupakan milik sejumlah pemegang saham eksisting baik korporasi maupun individual.

Secara rinci, berikut kepemilikan saham yang akan dijual oleh Bank Maspion:

  • PT Alim Investindo (kepemilikan 62,01%), akan menjual 602,50 juta saham atau setara dengan 13,56
  • PT Maspion (kepemilikan 12,46 %), akan menjual 314,24 juta saham atau setara dengan 7,07%
  • PT Husin Investama, melepas 125 juta saham atau setara dengan 2,81%
  • PT Maspion Investindo melepas 109,37 juta saham atau setara dengan 2,46%
  • Lima pemegang saham individual dengan total kepemilikan 182,36 juta saham atau 4,11%

Transaksi ini nantinya akan diselesaikan setelah seluruh persyaratan dalam CSPA dipenuhi dan fit and proper (uji kepatutan dan kelayakan) pemegang saham disetujui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sebelum rencana akuisisi tersebut, Kasikornbank yang sebelumnya bernama Thai Farmers Bank ini telah memiliki 9,99% saham di Bank Maspion. Rencana pembelian saham ini telah disetujui oleh Bank of Thailand.

Mengacu situs resminya, Kasikornbank yang tercatat di Bursa Thailand (Stock Exchange of Thailand/SET) ini didirikan pada 8 Juni 1945, dengan modal awal hanya sebesar 5 juta baht Thailand dan hanya didukung 21 karyawan.

Kantor pertamanya adalah di Thanon Sua Pa. Bank yang fokus pada kredit pertanian ini menunjukkan kinerja yang sehat setelah hanya dalam 6 bulan beroperasi. Pada 31 Desember 1945, atau pada akhir periode akuntansi pertamanya, bank berkode saham KBANK ini mencatat total dana pihak ketiga (DPK) 12 juta baht Thailand, dengan aset saat itu hanya 15 juta baht.

Bandingkan dengan saat ini, memang terjadi pertumbuhan cukup pesat. Data situs resmi Kasikornbank mencatat, hingga Desember 2019, aset perusahaan sudah menembus 3.294 triliun baht atau setara US$ 109,3 miliar (Rp 1.748 triliun, asumsi kurs Rp 16.000/US$). Penyaluran kredit di 2019 mencapai 2 triliun baht atau setara US$ 66,4 miliar dan DPK 2,07 triliun baht, atau US$ 68,7 miliar.

Kasikornbank pertama kali masuk di Bank Maspion pada 28 Agustus 2017 dengan membeli 9,99% saham bank milik Grup Maspion yang didirikan oleh pengusaha lokal Alim Markus ini.

Dalam siaran pers yang disampaikan di situs resminya, Kasikornbank menegaskan sinergi kedua bank ini diharapkan untuk meningkatkan layanan investasi dan keuangan perdagangan, perbankan UKM dan perbankan digital.

Selain itu, kemitraan tersebut juga akan membuka jalan bagi Kasikornbank untuk melayani perdagangan bilateral Thailand dan Indonesia dan investasi yang ditargetkan akan mencapai US$ 20 miliar dalam waktu 3 tahun.

Predee Daochai, Presiden KBank, ketika itu menegaskan persroan telah berkomitmen untuk memperkuat kehadirannya untuk melayani konektivitas bisnis di ASEAN, China, Jepang, dan Korea Selatan melalui perluasan jaringan layanan.

“Kemitraan baru kami dengan Bank Maspion melalui 9,99% saham ini adalah bukti bahwa kami akan memenuhi komitmen tersebut dan selanjutnya meningkatkan layanan kami untuk memberdayakan bisnis di kedua negara,” katanya, dikutip CNBC Indonesia.

Alim Markus, Presiden Direktur dan CEO Maspion Group, saat itu juga menegaskan bahwa dia sangat yakin bahwa aliansi dengan KBank ini akan menjadi batu loncatan bagi banyak perkembangan bilateral di masa depan.

“Ini akan memberikan kesempatan bagi Bank Maspion untuk mengeksplorasi keahlian KBank tentang perbankan digital dan operasi perbankan UKM, yang akan membantu meningkatkan layanan Bank Maspion dalam jangka panjang,” kata Alim.

Sementara itu, cakupan layanan Bank Maspion di Surabaya, Jakarta, Semarang, Denpasar, Medan, Bandung, Makassar, Solo, Malang, Purwokerto, dan Palembang akan memberikan akses yang lebih besar bagi pelanggan KBank untuk layanan keuangan dan konsultasi dari para ahli lokal.

“Sinergi ini merupakan aliansi yang sempurna yang memungkinkan kerjasama yang lebih maju antara Bank Maspion dan KBank di masa depan,” katanya.

Selain Kasikornbank, sebelumnya salah satu bank besar lainnya dari Thailand, yakni Bangkok Bank Public Company Limited mengumumkan akuisisi PT Bank Permata Tbk (BNLI) sebanyak 89,12% saham.

Pada Desember 2019, Bangkok Bank mengumumkan rencana mencaplok Bank Permata. Nilai transaksi akuisisi tersebut mencapai Rp 37,43 triliun untuk 89,12% atas saham yang dimiliki oleh Standard Chartered Bank dan PT Astra International Tbk (ASII).

Transaksi ini memang baru permulaan, pihak-pihak yang bertransaksi baru sebatas menandatangani conditional sales purchase agreement (CSAP). Transaksi diharapkan akan selesai pada tahun ini.

Bangkok Bank juga mengantisipasi akan melakukan penawaran tender wajib (mandatory tender offer) untuk sisa 10,88%. Nah nantinya total yang harus dibayar Bangkok Bank atas 100% saham Bank Permata kira-kira Rp 42 triliun.

“Pengambilalihan [Bank Permata] yang diusulkan akan dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan-kepentingan para pemangku kepentingan, kreditor, pemegang saham minoritas dan karyawan Bank Permata, kepentingan umum serta persaingan usaha yang sehat dalam melakukan usaha perbankan,” sebut prospektus Bank Permata yang dipublikasikan di satu media nasional, Selasa (2/2/2020).

Dana untuk membeli 3,12 miliar atau 89,12% saham Bank Permata oleh Bangkok Bank bersumber dari pembiayaan internal dan pembiayaan rutin.

Penawaran tender wajib akan dilakukan apabila, sesuai dengan POJK 56, OJK mengizinkan Bangkok Bank untuk memiliki saham dalam Bank Permata melebihi batas yang diizinkan berdasarkan batasan kepemilikan saham yang berlaku.

Setelah mengakuisisi Bank Permata, Bangkok Bank berencana akan mengakuisisi satu bank lagi di Indonesia. Ini merupakan salah satu syarat agar Bangkok Bank bisa mengakuisisi 89% saham Bank Permata.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keungan (OJK) Heru Kristiyana merespons pertanyaan seputar finalisasi akuisisi Bank Permata.

“Semuanya sudah on the right track Bangkok Bank ya,” kata Heru di Jakarta, Kamis (5/5/2020).

Heru menjelaskan, Bangkok Bank bisa mengakuisisi Bank Permata jika memenuhi semua persyaratan yang sudah ditentukan.

Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 56/POJK.03/2016 tentang kepemilikan bank umum pasal 2 ayat 2 disebutkan OJK mengizinkan lembaga keuangan dan lembaga keuangan bukan bank mengakuisisi saham bank di tanah air maksimal 40%.

Usai Caplok Bank Permata, Bangkok Bank Incar 1 Bank RI LagiFoto: Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Anggota Dewan Komisioner OJK, Heru Kristiyana SH (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Namun pada pasal 19, OJK bisa memberikan pengecualian dengan mengizinkan investor memiliki saham bank lebih dari 40% berdasarkan pertimbangan tertentu untuk jangka waktu tertentu. Pertimbangannya di antaranya untuk mendukung stabilitas sistem keuangan dan atau mendorong perkembangan perekonomian nasional.

Heru pernah mengatakan, jika ingin mengambil langsung 89% harus mengambil dua bank dan menggabungkannya. “Bila ingin one step (langsung) mayoritas mereka harus mengambil dua bank dan menggabungkannya. Jadi mereka membantu proses konsolidasi di Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Saat ditanya soal kemungkinan akuisisi bank lain, Heru menyampaikan sudah ada di pipeline. “Nanti dipikiran lah, tapi itu sudah dalam pipeline dia [Bangkok Bank],” kata Heru.

Namun Heru masih enggan menyebutkan nama bank lain yang akan di akuisisi oleh Bangkok Bank.

Sumber Berita / Artikel Asli : CNBC Indonesia

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here