Penanganan Kesehatan Di Era Feodalisme Politik

219

PADA waktu saya diminta bantuan sebuah lembaga kesehatan untuk menemukan salah satu tokoh penting di DKI Jakarta agar bisa menjalankan program pemberantasan TB, saya sangat antusias. Kemudian saya menghubungi jalur yang diinginkan tersebut.

Saya bersama tim dari lembaga tersebut ketemu di sebuah cafe di bilangan Jakarta Selatan. Lalu kami bicara panjang lebar mengenai program penelitian TB dengan alat yang cukup terbaru. Cukup dengan lima menit orang akan ketahuan terjangkit TB atau tidak.

Ternyata kami mendapat jawaban yang mengejutkan, “Kalau diteliti dengan alat tersebut nanti pasti akan banyak warga Jakarta yang terkena TB dan itu akan menggoyahkan politik lalu kekuasaan akan terancam”.

Kami sangat terkejut dengan jawaban tersebut. Sebab transparasi data kesehatan justru akan membuat masyarakat semakin terbuka, dengan cara tersebut kekuasaan juga akan menjadi kuat karena penguasa bisa memberikan data secara baik kepada masyarakat.

Itulah sekilas gambaran konyol tentang penangan kesehatan masyarakat selalu tertutup karena dilihat dari kepentingan politik kekuasaan belaka (feodal).

Hal itu yang membuat Indonesia selalu terlihat gagap dalam menangani sebuah kasus penyakit. Kita harus selalu maklum, jika sebuah penyakit ataupun wabah akan sangat sulit ditangani, jika penentu kebijakan dan masyarakat tidak saling terbuka dan saling bekerja sama.

Penanganan Kesehatan Masyarakat

Menurut Winslow (1920) seorang ahli kesehatan masyarakat mendefinisikan kesehatan masyarakat (public health) adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat untuk meningkatkan sanitasi lingkungan mengendalikan infeksi menular dengan pendidikan secara individual dalam hal hygiene perorangan, atau mengorganisasikan pelayanan medis dan perawatan untuk tercapainya diagnosis dini dan terapi pencegahan terhadap penyakit.

Teori di atas adalah pengembangan sosial ke arah adanya jaminan hidup yang layak dalam bidang kesehatan. Dengan cara mengorganisasikan hal tersebut di atas, maka akan memungkinkan setiap warga untuk menyadari dalam hidupnya di bidang kesehatan dan kehidupan. Dalam kasus virus Covid-19 adalah salah satu contoh buruknya penanganan pemerintah terhadap wabah tersebut.

Contoh cerita saya di Jakarta adalah menjadi nyata ketika wabah virus Covid-19 melanda dunia dan Indonesia dianggap tidak siap. Bahkan polemik kebijakan menjadi konsumsi di media tiap hari.

Pemerintah selalu merasa benar, tapi tidak transparan terhadap kasus tersebut. Keputusan politik adalah salah satu cara yang tepat, menjadi sia-sia jika pelaksanaan di lapangan berkata sebaliknya.

Kita lihat saja penanganan wabah virus Covid-19 adalah tidak adanya kepemimpinan tunggal yang diambil negara. Semua berdasarkan analis politik, bukan penyelesaian kasus.

Hal itu terlihat dari awal dengan beragam pernyataan pejabat yang berbeda dan cenderung meremehkan dan ditutupnya data korban virus Covid-19 ke publik. Padahal publik berhak tahu, sehingga teori Winslow bisa berjalan efektif dan didukung masyarakat luas.

Kenapa Vietnam berhasil dalam waktu cepat menangani visus Covid-19? Karena kebijakan pemerintahnya cepat dan tanggap. Begitu juga di Singapura, warga negaranya zero yang meninggal.

Sementara di Indonesia sampai sekarang belum jelas penanganannya. Walaupun ada gugus tugas yang bekerja, tapi alur tansportasi warga begitu kuat dan tiap hari masih saja terjadi. Di mana kerumunan orang berpotensi menularnya virus Covid-19.

Dari hal di atas pemerintah harus memutus mata rantai potensinya penularan. Di mana Indonesia sebagai negara dengan budaya solidaritasnya yang tinggi dan budaya ngumpul bersama menjadi faktor penting dalam menangani kasus virus tersebut.

Dengan cara mengorganisasikan hal tersebut di atas, maka akan memungkinkan setiap warga untuk menyadari dalam hidupnya di bidang kesehatan dan kehidupan.

Menyimak hal tersebut di atas, maka terlihat bahwa ternyata Kesehatan Masyarakat itu menyangkut sebuah kompleksitas yang amat dalam sekali. Namun sebenarnya tidak mudah bagi seseorang untuk memahami arti dari Kesehatan Masyarakat itu sendiri. Karena dengan pemahaman tentang kesehatan, masyarakat kita bisa terhindar dari wabah virus Covid-19.

Berhentilah menggunakan politik feodal yang menutupi tentang data wabah virus Covid-19. Karena kepanikan warga juga akan berkurang jika melihat data yang pasti.

Ambilah contoh Yogyakarta, ketika Sri Sultan HB X memberikan pesan kepada warganya dan secara mandiri warga melakukan tindakan untuk tetap tinggal di rumah dan mengisolasi diri secara apik.

Sehingga kita belajar berserah diri, seperti cukilan puisi Gus Mus :

“Datangi, temui dan kenali DIA, di dalam relung jiwa dan hati nuranimu sendiri.
Temukan DIA di saat yang teduh, di mana engkau hanya sendiri bersamaNYA”

Himawan Sutanto
Pemerhati budaya politik

Sumber Berita / Artikel Asli : Rmol

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here