Video Physical Distance Viral, Bintang Emon Malah Dilarang Jadi Influencer

300

Budayawan Sudjiwo Tedjo tak setuju jika komika Bintang Emon ditunjuk sebagai influencer resmi negara. Menurutnya, lebih baik membiarkan Bintang jadi rakyat agar lebih bisa didengarkan rakyat lainnya.

Komika Bintang Emon sebelumnya menuai perhatian publik setelah video pesan mengenai physical distancing miliknya viral.

Pesan Bintang Emon yang dibungkus dengan canda namun sarat makna tersebut membuat banyak pihak mendukung agar Bintang diangkat sebagai influencer resmi pemerintah dalam mengatasi isu corona.

Video tersebut mulanya diunggah oleh akun Twitter @bintangemon pada Sabtu (22/3/2020). Tak lama, rekaman berdurasi 2 menit 20 detik itu ramai dibagikan ulang oleh warganet.

Salah satunya cendekiawan muslim Haidar Bagir melalui akun Twitter pribadinya. Ia memuji aksi Bintang Emon yang disebut sebagai sosol cerdas dan baik hati.

“Sudah mulai viral, nih. Saya posting lagi biar lebih viral. Anak muda cerdas dan baik hati (Ada yang tahu siapa dia?),” tulis Haidar Bagir, seperti dikutip Suara.com, Selasa (24/3/2020).

Lebih lanjut, Haidar Bagir pun menyebut Bintang Emon cocok diangkat menjadi pendamping juru bicara pemerintah dalam penanggulangan pandemi Covid-19, mewakili kalangan anak muda.

“Boleh diangkat jadi juru bicara pemerintah untuk anak-anak muda, mendampingi Pak Ahmad Yurianto,” ungkapnya, memungkasi.

Namun, budayawan Sudjiwo Tedjo tak setuju dengan ide tersebut. Menurutnya, menjadi influencer resmi malah akan menghilangkan pengaruh suaranya.

Sudjiwo Tedjo tak setuju Bintang Emon jadi influencer pemerintah. (Twitter/@sudjiwotedjo)
Sudjiwo Tedjo tak setuju Bintang Emon jadi influencer pemerintah. (Twitter/@sudjiwotedjo)

“Aku enggak setuju usulan beberapa pihak agar @bintangemon ini diangkat jadi influencer resmi. Begitu jadi influencer resmi nanti dia malah enggak ada yang dengerin dan mungkin malah ngabis-ngabisin anggaran,” tulis budayawan yang akrab dipanggil Mbah Tedjo ini.

Sudjiwo Tedjo lebih setuju jika Bintang Emon tetap menjadi rakyat biasa. Menurutnya, rakyat sekarang lebih mau mendengarkan sesama rakyat daripada orang-orang yang memiliki jabatan.

“Biarkan jadi rakyat. Rakyat lebih didengar oleh rakyat,” tutupnya.

Sumber Berita / Artikel Asli : Suara

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here