Daya Beli Drop, Menteri Hilang, dan Banyak Masalah dari China, Alasan Tritura ProDEM Wajib Didukung

302

Seruan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) 2.0 yang digaungkan Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak yang prihatin melihat kondisi Indonesia saat ini.

Dukungan seruan Tritura 2.0 tersebut juga digaungkan oleh Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie Massardi, yang menilai aktivis ProDEM selalu konsisten bergerak bersama rakyat.

Mantan Jurubicara Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menilai aktivis ProDEM selalu gencar dalam mensosialisasikan social distancing yang tengah digalakkan pemerintah dalam menghadapi pandemik virus corona baru atau Covid-19 di Indonesia.

Hanya saja, sambung Adhie, ada hal yang kemudian membuat aktivis ProDEM tidak nyenyak tidur, yaitu tidak adanya dukungan serius pemerintah dalam mengatasi wabah mematikan dari Wuhan, China ini.

“Soal virus China itu, mereka bekerja keras di bawah. Tapi melihat apa yang dilakukan oleh pemerintah itu tidak mendukung,” ujarnya, Minggu (22/3).

Tindakan pemerintah yang tidak mendukung tersebut terlihat dari banyak instruksi yang tidak pernah jelas dan cenderung membingungkan.

Bahkan, pemerintah sudah lalai sejak Januari lalu dalam melakukan persiapan pencegahan corona masuk ke tanah air.

“Malah dibantah karena di negara tropis virus ini nggak mungkin, gitu kan,” sambung Adhie.

Kembali ke soal Tritura 2.0. Adhie Massardi mengamini tiga tuntutan rakyat yang disampaikan oleh ProDEM memang tengah dirasakan rakyat Indonesia saat ini.

Pertama soal tuntutan turunkan harga. ProDEM melihat daya beli masyarakat kini semakin drop yang diakibatkan harga-harga yang melonjak tinggi.

“Nah jadi kemudian melihat kan kemudian praktik TKA terus didatangkan dari China. Jadi soal turunkan harga karena dia (ProDEM) melihat harga-harga melonjak sementara daya beli menurun. Nah jadi tuntutan mereka sangat masuk akal dan itu didasarkan apa yang mereka lihat,” jelas Adhie.

Kedua soal tuntutan turunkan kabinet, kata Adhie, juga masuk akal lantaran menteri-menteri Joko Widodo tidak melakukan apa yang harus dilakukan sesuai tugas dan fungsinya dalam penanganan wabah corona.

“Kan tidak ada satu pun menteri yang benar menangani kasus ini. Mulai dari Menteri Kesehatan sampai Menkominfo tidak bisa memberikan penjelasan yang jelas. Kemudian Menteri Sosial juga hilang nggak ada. Dan menteri-menteri yang lain juga ke laut,” ungkap Adhie.

Tuntutan yang ketiga soal putuskan hubungan dengan China, Adhie pun setuju dengan ProDEM. Ini lantaran Indonesia saat ini seperti tengah berada dalam kerangkeng China.

“Karena persoalan bangsa ini lebih banyak didatangkan dari China, maka memang langkah yang paling tepat itu ya memutuskan dukungan dengan China,” tegas Adhie.

Persoalan yang terjadi di Indonesia lebih besar datang dari China yang dimaksud di antaranya, utang besar, industri manufaktur di Indonesia hancur lantaran diserbu produk dari China, hingga virus corona yang berasal dari China.

“Dasar tuntutan itu karena pertama utang-utang yang membengkak dari China untuk hal-hal yang tidak banyak manfaatnya seperti infrastruktur,” terangnya.

“Infrastruktur jalan tol ini kan bermanfaat hanya untuk mudik. Setelah itu kan nggak ada, karena mahal. Kemudian di musim hujan jadi sungai dadakan. Sehingga ini memang hal yang diminta oleh rakyat,” demikian Adhie Massardi.

Sumber Berita / Artikel Asli : Rmol

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here