Ananda: Dengar Pidato Pak Jokowi, Kok Sama Sekali Nggak Ngomongin Pendidikan Ya, Apa Aku yang Kelewatan Ya?

231
Ananda Sukarlan

Pianis kebanggaan Tanah Air, Ananda Sukarlan, menekankan sektor pendidikan merupakan isu penting yang harus menjadi perhatian pemerintah sekarang.

Tetapi Ananda heran kenapa dalam pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo ketika dilantik, kemarin, tidak menyinggung isu vital itu.

“Abis dengerin pidato Pak @jokowi lengkapnya. Kok sama sekali ga ngomongin soal pendidikan ya, apa aku yang kelewatan ya? Padahal menurutku itu sangat super penting dan genting,” kata Ananda melalui akun Twitter @anandasukarlan.

Ananda mengingatkan bukankah target pemerintah peride kedua meningkatkan sumber daya manusia.

“Padahal bukannya target periode ke-2 ini SDM unggul? Apalagi dengan bahaya radikalisme yang udah sangat nyata, Pak @jokowi. Gimana bisa unggul?

Ananda menekankan pendidikan penting untuk menangkal tantangan terhadap radikalisme di masa mendatang.

Mayoritas netizen sependapat dengan kegundahan Ananda. Netizen dengan akun @kalengdisco mengatakan pendidikan merupakan prioritas utama. “Paham radikal berkembang karena banyak orang beragama dalam kebodohan, gampang dihasut. Kebodohan biasanya asalnya dari kemiskinan. Miskin karena ga punya daya saing (pendidikan rendah),” katanya.

Dia juga heran kenapa ancaman radikalisme tidak dibahas dalam pidato Jokowi. “Padahal udah kronis banget sekarang.

Juliana Putra yang memakai akun @JuliePutra merasa terwakili oleh opini yang disampaikan Ananda. Dia mengatakan SDM unggul tidak akan pernah ada kalau pendidikan (dasarnya) tidak diunggulkan pula.

“Dear Pak @jokowi mohon didengarkan suara kami pak, revolusi paling urama yang harus dilakukan adalah revolusi pendidikan. Kita sudah ketinggalan jauh tata pengelolaan sistem dan kurikulum pendidikan kita dibanding negara luar pak… ada gap besar antara diknas dengan dikti,” katanya.

Netizen yang menggunakan akun @Nefertitefitriy menekankan pendidikan adalah fondasi peradaban, tanpa pendidikan yang menyeluruh, karakter unggul sulit terbentuk.

“Semoga karena pidato yang singkat aja sehingga unsur pendidikan seperti tidak tersampaikan dipidato,” katanya.

Tapi menurut pendapat Ananda keterbatasan waktu seharusnya membuat hal-hal yang esensial muncul dalam pidato sepenting itu. “Dari situ kita bisa ngerti mana yang diprioritaskan mana yang “ntar dulu.” Just my humble opinion,” kata Ananda.

Peningkatan pendidikan merupakan salah satu yang menjadi perhatian serius Ananda. Beberapa waktu yang lalu di Kemah Budaya Kaum Muda, kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, dia mengatakan Indonesia butuh revolusi pendidikan seni karena selama ini diajarkan dengan cara yang sama dengan pendidikan ilmu pasti.

“Pelajaran seni diajarkan menggunakan pendekatan logika padahal harusnya tidak ada nilai angka untuk seni. Misalnya ada gambar yang dinilai guru delapan ada yang dinilai sembilan,” katanya sebagaimana laporan Antara ketika itu.

Menurut dia semua orang memiliki cara berpikir yang berbeda maka tidak dapat diseragamkan, harusnya imajinasi siswa dikembangkan secara bebas.

Untuk merevolusi pendidikan, maka dapat menggunakan prinsip Ki Hajar Dewantara.

“Kata-kata beliau mengenai ‘bimbinglah dari belakang’ harus diterapkan dalam pendidikan seni. Dalam prinsip Ki Hajar Dewantara pendidikan dasar itu dimulai dengan pendidikan seni,” kata dia.

Dia menilai negara-negara di Eropa bisa lebih maju dibandingkan dengan Indonesia karena mereka dapat menghargai individu. Setiap individu harus berkembang imajinasi dan kreatifitasnya.

Dengan mengembangkan imajinasi maka akan tahu tujuan ke depan, cara merealisasikan imajinasi tersebut dengan kreatifitas. Setelah itu ilmu pengetahuan akan datang seiring jalannya kedua hal tersebut, kata dia.

“Kekuatan bangsa itu ada di kekuatan individu. Kita harus lari sekarang karena kita sudah ketinggalan banyak, dan lari itu didapat dengan pendidikan kreatifitas dan pendidikan kreatifitas itu didapat dengan pendidikan seni,” kata dia. [] akurat

Berikan Komentar Anda :

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here