Ironi Airin Bangun Rumah Dinas Mewah saat Tetangganya Hidup di Gubuk Reyot

130

Sejumlah pekerja nampak sibuk menjalani aktivitasnya masing-masing di suatu proyek bangunan yang berada persis di sisi Jalan Smapal, Kampung Babakan, Lengkong Gudang Barat, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel).

Beberapa dari mereka berada di bagian atap seraya membawa peralatan kerja, sebagian lainnya tersebar di area pelataran, hingga bagian dalam dari bangunan seluas 731 meter persegi yang berdiri di atas lahan seluas 2.078 meter.

Rupanya bangunan megah itu merupakan proyek rumah dinas Wali Kota Tangsel yang dimulai pengerjaannya beberapa bulan lalu. Total anggaran yang digelontorkan cukup besar, yakni mencapai lebih dari Rp9 miliar dengan target penyelesaian pada November 2019.

Kelak, Wali Kota Airin Rachmi Diany berkesempatan mencicipi rumah dinas mewah itu. Karena sebelumnya, rumah dinas Wali Kota masih menggunakan rumah pribadi di kawasan Alam Sutera, dengan status sewa mencapai sekira Rp220 juta pertahun.

Awak media mencoba berbincang dengan pelaksana proyek rumah dinas yang berasal dari PT Ramai Jaya di lokasi. Di sana disebutkan, jika rumah itu dilengkapi berbagai fasilitas memanjakan, di mana terdapat ruang keluarga, ruang anak, ruang kerja, ruang pelayanan dapur dan ajudan, hingga kolam renang.

“Secara keseluruhan pengerjaannya sudah 56 persen, tinggal mekanikal sama arsitekturnya. Kalau kolam renang sudah 70 persen,” terang Arpin, Wakil Pelaksana PT Ramai Jaya, Selasa (8/10/2019).

Pantauan di lokasi, rumah dinas itu didesain begitu kokoh. Tercatat sedikitnya ada 60 pekerja yang direkrut guna mengerjakan beberapa item, seperti pagar, bagian atap, dinding dan area lainnya. Antara satu ruangan dengan ruangan lain, dilengkapi pula fasilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan rumah dinas.

“Semua desainnya tidak ada yang berubah, jadi sesuai DED (Detail Engineering Design) pada waktu awal perencanaan,” katanya.

Proyek mewah rumah dinas Wali Kota itu spontan menuai cibiran masyarakat. Sebagian membandingkan dengan kebanyakan rumah tak layak huni warga miskin di Kota Tangsel. Mereka bahkan ada yang telah sekian lama hidup di bawah bangunan reyot, kumuh dan kusam.

“Coba dibandingkan, kan sangat tak pantas, seolah tidak menunjukkan rasa empati jika untuk rumah dinas wali kota dibangun megah dengan anggaran besar. Di sisi lain, masih sangat banyak rumah warga yang kondisinya jauh dibawah kata layak huni. Pemimpin itu mesti berkaca pada kondisi rakyatnya,” ujar Julham Firdaus, tokoh muda di daerah Serpong.

“Ini jadi ironi, jangan sampai pemimpinnya tidur enak, makan enak, semua kebutuhan ada, fasilitas lengkap, sampai kolam renang dibuatin. Sementara rakyatnya, cari makan susah, atap rumahnya bocor, serba diteror kemiskinan. Belum pantaslah saat ini dibangun seperti itu,” imbuhnya.

Satu di antara rumah tak layak itu adalah milik nenek Nantin (65), letaknya berada di Kampung Buaran, RT03 RW07, Serpong, Tangsel. Di sana, dia hanya tinggal seorang diri. Manakala hujan datang, Nantin harus mengungsi ke rumah tetangga, lantaran curah air hujan tak mampu dibendung oleh atap rumahnya yang tak utuh dan rusak.

“Atapnya udah nggak ada, pada rusak, jadi pakai seadanya aja. Kalau hujan ya ngungsi ke tetangga dulu,” tuturnya.

Bangunan reyot rumah nenek Nantin hanya terbuat dari susunan batang bambu dengan sedikit tembok dinding. Banyak sisinya ditutupi terpal dan kain bekas. Kondisi memprihatinkan itu, mau tak mau harus dirasakan mengingat profesinya hanyalah sebatas tukang sapu jalan di Taman Kota 2, Taman Tekno, Serpong.

“Setiap hari nyapuin jalan di taman kota 2. Bayarannya Rp180 ribu perminggu,” ungkapnya. [okezone]

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here